Jumat, 21 April 2017

evaluasi uterus



MAKALAH
ASUHAN KEBIDANAN II EVALUASI UTERUS










PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
2013






BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (Mochtar, 2002). Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup di luar uterus melalui vagina ke dunia luar. Persalinan normal atau persalinan spontan adalah bila bayi lahir dengan letak belakang kepala tanpa melalui alat-alat atau pertolongan istimewa serta tidak melukai ibu dan bayi, dan umumnya berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam (Wikjosastro, 2002). 
Kesimpulan : Persalinan adalah proses pengeluaran konsepsi yang telah cukup bulan melalui jalan lahir atau jalan lainnya, dengan bantuan atau tanpa bantuan.
Tahapan persalinan adalah :
1.      Kala I           :    Pembukaan Servik - 10 cm (lengkap)
2.      Kala II         :    Pengeluaran janin
3.      Kala III        :    Pengeluaran & pelepasan plasenta
4.      Kala IV        :    Dari lahirnya uri selama 1 - 2 jam
Setelah plasenta lahir masih ada masa kritis yang dihadapi oleh ibu dalam masa tersebut dapat terjadi perdarahan. Penyebab utama dari perdarahan ialah kontraksi uterus yang kurang baik. Oleh karena itu sebelum 1 jam berlalu, penderita belum boleh dipindahkan ke kamarnya dan masih memerlukan pengawasan yang seksama. Nadi dan tensi diawasi tiap 15 menit.
a.       Setelah plasenta lahir hendaknya plasenta diperiksa dengan teliti apakah lengkap. Caranya dengan meletakkan plasenta pada telapak tangan dan diamati apakah kotiledon dan ketuban lengkap.
b.      Bila darah yang keluar melebihi 500 cc menandakan adanya perdarahan postpartum.
c.       Bila fundus uteri naik dan uterus mengembang, perlu dipikirkan adanya perdarahan akibat atonia uteri.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa  yang dimaksud dengan evaluasi uterus : konsistensi dan atonia ?
2.      Bagaimana melakukan evaluasi uterus : konsistensi dan atonia ?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Tujuan Umum
Penulisan makalah Asuhan Kebidanan II (Persalinan) ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi serta pembelajaran bagi mahasiswa agar lebih memahami  tentang Evaluasi uterus: konsistensi dan atonia khususnya dalam  kebidanan.
2.      Tujuan Khusus
a)      Untuk mengetahui yang dimaksud dengan evaluasi uterus : konsistensi   
     dan atonia.
b)      Untuk mengetahui bagaimana melakukan  evaluasi uterus : konsistensi dan atonia.

D.      Manfaat Penulisan
Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa, untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang evaluasi uterus : konsistensi dan atonia







BAB II
PEMBAHASAN

A.      Evaluasi uterus : Konsistensi, Atonia
Perlu diperhatikan bahwa kontraksi uterus mutlak diperlukan untuk mencegah terjadinya perdarahan dan pengembalian uterus kebentuk normal. Kontraksi uterus yang tidak kuat dan terus-menerus dapat menyebabkan terjadinya atonia uteri yang dapat mengganggu keselamatan ibu. Untuk itu evaluasi terhadap uterus pasca pengeluaran plasenta sangat penting untuk diperhatikan.
a.       Konsistensi: tindakan pertama yang dilakukan bidan setelah plasenta lahir adalah melakukan evaluasi konsistensi uterus sambil melakukan masase mempertahankan kontraksinya pada saat yang sama, derajat penurunan serviks dan uterus ke dalam vagina dapat dikaji kebanyakan pada uterus sehat dapat melakukan kontraksi sendiri.
b.      Atonia : apabila bidan menetapkan bahwa uterus yang berelaksasi merupakan indikasi akan adanya atonia, maka segera lakukan pengkajian dan penatalaksanaan yang tepat. Kegagalan mengatasi atonia dapat menyebabkan kematian ibu.
Untuk membantu uterus berkontraksi dapat dilakukan dengan massase agar uterus tidak menjadi lembek dan mampu berkontraksi dengan kuat. Setelah kelahiran plasenta, periksa kelengkapan dari plasenta dan selaput ketuban. Jika masih ada sisa plasenta dan selaput ketuban yang tertinggal dalam uterus akan mengganggu kontraksi uterus sehingga menyebabkan perdarahan.
Jika dalam waktu 15 menit uterus tidak berkontraksi dengan baik, maka akan terjadi atonia uteri. Oleh karena itu, diperlukan tindakan rangsangan taktil (massase) fundus uteri dan bila perlu dilakukan Kompresi Bimanual. Dapat diberikan obat oksitosin dan harus diawasi sekurang-kurangnya selama satu jam sambil mengamati terjadinya perdarahan post partum.

B.       Melakukan Evaluasi uterus : Konsistensi, Atonia
Penatalaksanaan :
a.       Lakukan rangsangan taktil (pemijatan) uterus untuk merangsang uterus berkontraksi
b.      Evaluasi tinggi fundus dengan meletakkan jari tangan anda secara melintang antara pusat dan fundus uteri. Fundus uteri harus sejajar dengan pusat atau lebih bawah. Misalnya, jika 2 jari bisa diletakkan dibawah pusat dan di atas fundus uteri maka disebut “ 2 jari di bawah pusat “.
c.       Perkirakan kehilangan darah secara keseluruhan
d.      Periksa perineum dari perdarahan aktif (misalnya apakah dari laserasi atau episiotomi)
e.       Periksa kondisi ibu secara umum
f.       Dokumentasikan semua asuhan dan temuan selama kala empat persalinan di halaman belakang partograf segera setelah asuhan diberikan atau setelah penilaian dilakukan.
Jadi tindakan pertama bidan setelah kelahiran plasenta adalah mengevaluasi konsistensi uterus dan melakukan massase uterus sesuai kebutuhan untuk memperkuat kontraksi. Pada saat yang sama,derajat penurunan servik atau uterus ke dalam vagina dapat dikaji. Kebanyakan uterus yang sehat dapat berkontraksi dengan sendirinya. Apabila bidan menetapkan bahwa uterus relaksasi atau atonik, penyebab nya harus dikaji dan penatalaksanaan untuk sepenuhnya membantu kontraksi uterus segera dimulai. Kegagalan mengatasi masalah atonik dapat mengakibatkan perdarahan pasca partus. Faktor-faktor yang dipertimbangkan sebagai berikut :
1.      Konsistensi uterus ; uterus harus berkontraksi efektif, teraba padat dan keras
2.      Potensial untuk relaksasi uterus, termasuk hal-hal berikut :
a)      Riwayat atonia uterus pada kehamilan sebelumnya
b)      Status ibu sebagai grand multipara
c)      Distensi berlebihan pada uterus,misalnya pada kehamilan kembar, polihidramnion dan makrosemia
d)     Induksi atau augmentasi persalinan
e)      Persalinan presipitatus
f)       Persalinan memanjang
3.      Kelengkapan plasenta dan membran pada saat inspeksi
4.      Status kandung kemih
5.      Ketersediaan orang kedua untuk membantu konsistensi uterus dan aliran lochea
6.      Kemampuan pasangan ibu dan bayi untuk pemberian ASI
7.      Jika uterus mulai mengeras dengan perlahan melepas tangan dan mengamati apakah perdarahan masih terus berlangsung. Ketika melakukan masase uterus, darah keluar sedikit dan dapat diperkirakan kehilangan darah sebanyak 400cc, maka atonia uterus sudah diatasi dengan kompresi bimanual internal.

C.      Atonia Uteri
a.      Definisi
Atonia uteri adalah kegagalan serabut-serabut otot miometrium uterus untuk berkontraksi dan memendek. Hal ini merupakan penyebab perdarahan post partum yang paling penting dan biasa terjadi segera setelah bayi lahir hingga 4 jam setelah persalinan. Atonia uteri dapat menyebabkan perdarahan hebat dan dapat mengarah pada terjadinya syok hipovolemik.
b.      Etiologi
Overdistensi uterus, baik absolute maupun relative, merupakan faktor resiko mayor terjadinya atonia uteri. Overdistensi uterus dapat disebabkan oleh kehamilan ganda, janin makrosomia, polihidramnion atau abnormalitas janin (missal hidrosefalus berat), kelahiran struktur uterus atau kegagalan untuk melahirkan plasenta atau distensi akibat akumulasi darah di uterus baik sebelum maupun sesudah plasenta lahir. Lemahnya kontraksi miometrium merupakan akibat dari kelelahan karena persalinan lama atau persalinan dengan tenaga besar, terutama bila mendapatkan stimulasi.
Hal lain dapat pula terjadi sebagai akibat dari inhibisi kontraksi yang disebabkan oleh obat-obatan, seperti agen anestesi terhalogenisasi, nitrat, obat-obat antiinflamasi nonsteroid, magnesium sulfat, betasimpatomimetik, dan nifedipin.
Penyebab lain yaitu plasenta letak rendah, toksin bakteri (korioamnionitis, endomiometritis, septikemia), hipoksia akibat hipoperfusi atau uterus couvelaire pada abruption plasenta dan hipotermia akibat resusitasi massif.
Data terbaru menyebutkan bahwa grandemultiparitas bukan merupakan faktor resiko independen untuk terjadinya perdarahan post partum.
c.       Penatalaksanaan
·         Kenali dan tegakkan diagnosis kerja atonia uteri
·         Masase uterus, berikan oktosin dan ergometrin intravena, bila ada perbaikan dan perdarahan berhenti, oksitosin dilanjutkan perinfus.
·         Bila tidak ada perbaikan dilakukan kompresi bimanual, dan kemudian dipasang tampon uterovaginal padat. Kalau cara ini berhasil, diperhatikan selama 24 jam.
·         Kompresi bimanual eksternal, menekan uterus melalui dinding abdomen dengan jalan saling mendekatkan kedua belah telapak tangan yang melingkupi uterus. Pantau aliran darah yang keluar. Bila perdarahan berkurang, kompresi diteruskan, pertahankan hingga uterus dapat kembali berkontraksi. Bila belum berhasil dilakukan kompresi bimanual internal.
·         Kompresi bimanual internal, uterus ditekan di antara telapak tangan pada dinding abdomen dan tinju tangan dalam vagina untuk menjepit pembuluh darah di dalam miometrium (sebagai pengganti mekanisme kontraksi). Perhatikan perdarahan yang terjadi. Pertahankan kondisi ini bila perdarahan berkurang atau berhenti, tunggu hingga uterus berkontraksi kembali. Apabila perdarahan tetap terjadi, coba kompresi aorta abdominalis.
·         Kompresi aorta abdominalis, Raba arteri femoralis dengan ujung jari tangan kiri, pertahankan posisi tersebut, genggam tangan kanan kemudian tekankan pada daerah umbilicus, tegak lurus dengan sumbu badan, hingga mencapai kolumna vertebralis. Penekanan yang tepat akan menghentikan atau sangat mengurangi denyut arteri femoralis. Lihat hasil kompresi dengan memperhatikan perdarah yang terjadi.
·         Dalam keadaan uterus tidak respon terhadap oksitosin/ergometrin, bisa dicoba prostaglandin F2a (250 mg) secara intramuskuler atau langsung pada miometrium (transabdominal). Bila perlu pemberiannya dapat diulang dalam 5 menit dan tiap 2 atau 3 jam sesudahnya.
·         Laparotomi dilakukan bila uterus tetap lembek dan perdarahan yang terjadi tetap > 200 mL/ jam. Tujuan laparotomi adalah meligasi arteri uterine atau hipogastrik (khusus untuk penderita yang belum punya anak atau muda sekali)
·         Bila tidak berhasil, histerektomi adalah langkah terakhir.











BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Yang dimaksud dengan kala IV adalah 1-2 jam setelah pengeluaran uri. Setelah plasenta lahir masih ada masa kritis yang dihadapi oleh ibu dalam masa tersebut dapat terjadi perdarahan. Penyebab utama dari perdarahan ialah kontraksi uterus yang kurang baik. Oleh karena itu sebelum 1 jam berlalu, penderita belum boleh dipindahkan ke kamarnya dan masih memerlukan pengawasan yang seksama. Nadi dan tensi diawasi tiap 15 menit.
a)      Setelah plasenta lahir hendaknya plasenta diperiksa dengan teliti apakah lengkap. Caranya dengan meletakkan plasenta pada telapak tangan dan diamati apakah kotiledon dan ketuban lengkap.
b)      Bila darah yang keluar melebihi 500 cc menandakan adanya perdarahan postpartum.
c)      Bila fundus uteri naik dan uterus mengembang, perlu dipikirkan adanya perdarahan akibat atonia uteri.

B.       Saran
1.      Bagi Institusi
Diharapkan agar dapat memberi masukan berupa kritik dan saran yang bersifat membangun tentang  evaluasi uterus : konsistensi, atonia.
2.      Bagi Mahasiswa DIII Kebidanan
Bagi tenaga kesehatan, khususnya bidan diharapakan agar meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan asuhan kebidanan, serta lebih peka untuk mengidentifikasi tanda bahaya dalam persalinan agar dapat dengan segera ditangani.


3.      Bagi Pembaca
Diharapkan dapat dijadikan pedoman dalam membuat sebuah makalah dengan tema atau judul yang sama dengan lebih baik lagi.


























DAFTAR PUSTAKA

Nugroho, Taufan. 2011. Buku Ajar Obstetri Untuk Mahasiswa Kebidanan. Yogyakarta : Nuha Medika
Prawirohardjo, Sarwono. 2000. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo


Tidak ada komentar:

Posting Komentar