Senin, 13 Maret 2017

Anatomi fisiologi panggul



Anatomi Fisiologi Panggul

Panggul (pelvis)

A.    Bentuk Panggul
Caldwell-Moloy mengemukakan 4 bentuk dasar panggulialah :
1.      Panggul gynecoid
2.      Panggul android
3.      Panggul anthropoid
4.      Panggul platypelloid
Pembagian ini didasarkan atas bentuk segmen posterior dan anterior dari p.a.p.
Segmen posterior ialah bagian yang terdapat sebelah belakang dan diameter transversa p.a.p., sedangkan segmen anterior bagian yang terdapat sebelah depan dari garis tersebut.
Segmen belakang menentukan bentuknya, sedangkan segmen depan variasinya.
1.      Panggul gynecoid
a.       Bentuk ini adalah yang khas bagi wanita.
b.      Diameter sagittalis posterior hanya sedikit lebih pendek dari diameter sagittalis anterior.
c.       Batas samping segmen posterior membulat dan segmen anterior juga membulat dan luas.
d.      Diameter transversa kira-kira sama panjangnya dengan diameter antero posterior hingga bentuk p.a.p. mendekati bentuk lingkaran (bulat).
e.       Dinding samping panggul lurus, spina ischiadica tidak menonjol, diameter inter spinalis 10 cm atau lebih.
f.       Incisura ischiadica major bulat.
g.      Sacrum sejajar dengan symphysis dengan konkavitas yang normal.
h.      Arcus pubis luas
2.      Panggul Android
a.       Diameter sagittalis posterior jauh lebih pendek dari diameter sagittalis anterior.
b.      Batas samping segmen posterior tidak membulat dan membentuk sudut yang runcing dengan pinggir samping segmen anterior
c.       Segmen anterior sempit dan berbentuk segit tiga.
d.      Dinding samping panggul convergent, spina ischiadica menonjol, arcus pubis sempit.
e.       Incisura ischiadica sempit dan dalam
f.       Sacrum letaknya ke depan, hingga diameter antero posterior sempit pada p.a.p. maupun p.b.p.
g.      Bentuk sacrum lurus, kurang melengkung, sedangkan ujungnya menonjolke depan.
3.      Panggul anthropoid
a.       Diameter antero posterior dari p.a.p. lebih besar dari diameter transversa hingga bentuk p.a.p. lonjong kedepan.
b.      Bentuk segmen anterior sempit dan runcing.
c.       Incisura ischiadica major luas.
d.      Dinding samping convergent, sacrum letaknya agak ke belakang, hingga ukuran antero posterior besar pada semua bidang panggul.
e.       Sacrum biasanya mempunyai 6 ruas, hingga panggul anthropoid lebih dalam dari panggul-panggul lain.

4.      Panggul platypelloid
a.       Bentuk ini sebetulnya panggul ginecoid yang picak; diameter antero posterior kecil, diameter transversa biasa.
b.      Segmen anterior lebar
c.       Sacrum melengkung
d.      Incisura ischiadica lebar.

B.     Ukuran-ukuran panggul
1.      Apakah persalinan dapat berlangsung dengan baik atau tidak antara lain tergantung pada luasnya jalan lahir yang terutama ditentukan oleh bentuk dan ukuran-ukuran panggul.
2.      Maka untuk meramalkan apakah persalinan dapat berlangsung biasa, pengukuran panggul diperlukan.
3.      Ukuran-ukuran panggul dapat diperoleh secara klinis atau secara rontgenologis.
Karena bidang luas panggul biasanya tidak menimbulkan rintangan karena ukuran-ukurannya besar, maka biasanya hanya diukur melalui :
a.       Pintu atas panggul
b.      Bidang tengah panggul
c.       Pintu bawah panggul

1)      Pengukuran secara klinis
a.       Pintu atas panggul
Dari ukuran-ukuran p.a.p. konjugata vera adalah ukuran yang terpenting dan satu-satunya ukuran yang dapat diukur secara indirec ialah dengan mengurangi konjugata diagonalis dengan 1,5-2 cm, tergantung dari lebar dan inklimasi sympisis.
Cara mengukur konjugata diagonalis :
a.       Dengan dua jari ialah jari telunjuk dan jari tengah, melalui konkavitas dari sacrum, jari tengah digerakkan keatas sampai dapat meraba promontorium.
b.      Sisi radial dari jari telunjuk ditempelkan pada pinggir bawah sympisis dan tempat ini ditandai dengan kuku jari telunjuk tangan kiri.

            Promontorium hanya bisa tercapai oleh jari kita dengan pemeriksaan dalam pada panggul yang sempit. Pada panggul ukuran normal, promontorium tak tercapai, tapi ini menandakan bahwa CV cukup besar.
Kalau CV lebih besar dari 10 cm, maka p.a.p dianggap cukup luas (biasanya CV=11cm). Sebenarnya ini tidak tepat, karena walaupun CV cukup besar masih ada kemungkinan bahwa ukuran lain, misalnya ukuran melintang sempit. Sayang sekali diameter transversa tak dapat diukur secara klinis tapi kesempitan diameter transversa tanpa kesempitan CV jarang sekali terdapat.
Selain dengan pengukuran CD kita juga dapat mengetahui secara klinis bahwa p.a.p mencukupi kalau kepala anak dengan ukuran terbesarnya sudah melewati p.a.p

Ini dapat diketahui dengan :
1.      Pemeriksaan luar :
Kalau kepala dengan ukuran terbesarnya sudah melewati p.a.p, maka hanya bagian kecil saja dari kepala yang dapat diraba dari luar diatas sympisis
Kedua tangan yang diletakkan pada pinggir bagian kepala ini divergent.
2.      Pemeriksaan dalam :
Bagian terendah kepala sampai spina ischiadica atau lebih rendah.
Caput succedaneum yang besar dapat memberi kesan yang salah dimana seolah-olah bagian terendah sudah sampai setinggi spina ischiadica, padahal kepala masih tinggi, maka hasil pemeriksaan dalam harus selalu disesuaikan dengan hasil pemeriksaan luar.

1)      Bidang tengah panggul
Ukuran-ukuran bidang tengah panggul tak dapat diukur secara klinis dan memelukan pengukuran secara rontgenologis.
2)      Pintu bawah panggul
Diameter transversa dan diameter sagittalis posterior anterior dapat diukur dengan pelvi meter dengan thoms.
Tapi pengukuran diameter transversa ini adalah pengukuran yang kasar karena tubera ischii tertutup oleh lapisan otot dan lemak yang berbeda tebalnya dari orang ke orang.
Ukuran yang lebih besar dari 8 cm dianggap mencukupi karena pengukuran diameter transversa kurang tepat, maka dianjurkan untuk memperhatikan bentuk arcus pubis yang hendaknya merupakan sudut yang tumpul.
3)      Ukuran-ukuran luar
Ukuran-ukuran luar tak dapat dipergunakan untuk penilaian, apakah persalinan dapat berlangsung secara biasa atau tidak.
Walaupun begitu ukuran-ukuran luar dapat memberi petunjuk pada kita akan kemungkinan panggul sempit.
Ukuran luar yang terpenting ialah :
a.       Distantia spinarum :
Jarak antara spina iliaca anterior superior kiri dan kanan (Ind.23er.26)
b.      Distantia cristarum :
Jarak yang terjauh antara crista iliaca kanan dan kiri (Ind.26, er.29)
c.       Konjugata externa (Baudeloque) :
Jarak antara pinggir atas sympisis dan ujung processus spinosus ruas tulang lumbal ke V (Ind.18, er.20)
d.      Ukuran lingkar panggul :
Dari pinggir atas sympisis ke pertengahan antara spina iliaca anterior superior dan trochanter major sepihak dan kembali melalui tempat-tempat yang sama dipihak yang lain (Ind.80, er.90)

            Ukuran-ukuran luar ditentukan dengan jangka panggul kecuali ukuran lingkar panggul yang diambil dengan pita pengukur.  

4)      Pemeriksaan dalam, untuk menentukan ukuran dan bentuk panggul :
Dengan pemeriksaan dalam dapat kita ukur CD tapi kita juga dapat kesan mengenai bentuk-bentuk panggul. Yang harus diperiksa ialah :
a.       Apakah promontorium teraba atau tidak. Bila teraba berapa CD nya.
b.      Apakah tak ada tumor (axostose) pada permukaan belakang sympisis.
c.       Apakah linea innominata teraba seluruhnya atau sebagian.
d.      Apakah sidewalls (dinding samping) lurus, konvergent atau divergent oleh karena ukuran yang luas pada inlet tidak perlu diikuti oleh bidang sempit panggul dan pinti bawah panggul.
e.       Apakah kedua spina ischiadica menonjol atau tidak. Sering terdapat bahwa spina yang menonjol disertai dengan dinding samping yang convergent.
f.       Apakah os sacrum mempunyai inklinasi ke depan atau ke belakang. Perhatikan pula kontavitas dari sacrum. Dalam keadaan patologi sacrum mempunyai bentuk hampir lurus.
g.      Apakah sudut arcus pubis cukup luas atau tidak.

2)      Pengukuran rontgenologis
Ukuran-ukuran panggul dapat juga diukur dengan sinar X.
Keuntungan dari pengukuran panggul dengan sinar rontgen ialah :
a.       Dapat mengambil ukuran-ukuran yang tak dapat ditentukan secara klinis seperti diameter transversa dari p.a.p, ukuran antara spinae ischiadicae, diameter antero posterior dari bidang tengah panggul.
b.      Selain dari pada memberikan ukuran-ukuran panggul juga memperlihatkan pada kita bentuk panggul.
c.       Dapat menentukan apakah ukran terbesar kepala usdah melampaui p.a.p.

C.    BAGIAN LUNAK DARI PANGGUL
Bagian lunak dari panggul terdiri dari otot-otot dan legamenta yang meliputi dinding panggul sebelah dalam dan menutup panggul sebelah bawah, yang menutupi panggul dari bawah membentuk dasar panggul dan disebut diafragma pelvis.
Diafragma pelvis dari dalam keluar terdiri atas :
1.      Pars muscularis yaitu m.levator anni.
Yang agak kebelakang letaknya dan merupakan suatu sekat yang ditembus oleh rectum. M. Levator annikiri kanan sebetulnya terdiri atas 3 bagian.
Dari depan kebelakang dapat dikenal :
a.       Musc. Pubo coccygeus dari os pubis ke septum anococcygeum.
b.      Musc. Ilio coccygeus dari arcus tendineus m.levator anni ke os coccygis dan septum anococcygeum.
c.       Musc. (ischio) coccygeus dari spina ischiadica ke pinggir sacrum dan os coccygis.
2.      Pars membranacea yaitu diafragma urogenitale.
Antara m.pubo coccygeus kiri kanan terdapat celah berbentuk segitiga disebut hiatus urogenitalis yang tertutup oleh sekat yang disebut diafragma urogenitalis. Sekat ini menutupi pintu bawah panggul disebelah depan dan pada wanita, sket ini ditembus oleh uretra dan vagina.
Diafragma pelvis ini menahan genitalia internal pada tempatnya.
Kalau otot-otot rusak atau lemah karena persalinan yang sering dan berturut-turut mungkin genetalia interna turun (prolaps)

     Daerah perinium :
     Merupakan bagian permukaan dari pintu bawah panggul.
     Daerah ini terdiri dari 2 bagian :
a.       Regio analis disebelah belakang
Disni terdapat m.sphincter ani externus yang mengelilingi anus.
b.      Regio urogenetalis
Disini terdapat :
1)      M. Bulbo cavernosus yang mengelilingi vulva.
2)      M. Ischio cavermosus
3)      M.transversus perinei superficialis.






                                                            REFERENSI

Prof. Sastrawinata S, 1983. Obstetri Fisiologi. Bandung;Eleman.

Sabtu, 11 Maret 2017

Adaptasi Psikologi



ADAPTASI PSIKOLOGI
Adaptasi psikologi merupakan proses penyesuaian secara psikologi akibat stresor yang ada, dengan memberikan mekanisme pertahanan dari dengan harapan dapat melindungi atau bertahan diri dari serangan atau hal-hal yang tidak menyenangkan. Dalam adaptasi secara psikologis terdapat dua cara untuk mempertahankan diri dari berbagai stresor yaitu dengan cara melakukan koping atau penanganan diantaranya berorientasi pada tugas (task oriented) yang dikenal dengan problem solving strategi dan ego oriented atau mekanisme pertahanan diri.

Adaptasi Psikologis
Emosi kadang dikaji secara langsung atau tidak langsung dengan mengamati perilaku klien. Stress mempengaruhi kesejahteraan emosional dalam berbagai cara. Ketiga karakteristik ini adalah media terhadap stress, meliputi rasa kontrol terhadap peristiwa kehidupan, komitmen terhadap aktivitas yang berhasil, dan antisipasi dari tantangan sebagai suatu kesempatan untuk pertumbuhan (Wiebe dan Williams, 1992 ; Tarstasky, 1993).
Pada adaptasi psikologi ada tiga tahap yaitu:
1.      tahap alarm reaction adalah tahap awal dari proses adaptasi tahap ini di awali dengan keseimbangan dimana terjadi perubahan psikologis yaitu pengeluaran hormon oleh  hipotalamus yang dapat dapat menyebabkan kelenjar adrenalin yang dapat meningkatkan denyut jantung dan menyebabkan pernafasan menjadi lebih cepat dan dangkal kemudian hipotalamus juga dapat melepaskan hormon ACTH ( adrenol kortikotropik) yang dapat merangsang adrenal untuk mengeluarkan kortikosteroid yang akan mempengaruhi fungsi tubuh.
2.      tahap resistensi( stage of resistance) merupakan tahap kedua dimana tubuh akan melakukan proses penyesuaian dengan mengadakan berbagai perubahan dalam tubuh yang berusaha untuk mengatasi stressor yang ada seperti jantung bekerja lebih keras, untuk mendorong darah yang pekat untuk melewati arteri dan vena yang menyempit.
3.      tahap terakhir ( stage of exhaustion) tahap ini dapat ditandai dengan adanya kelelahan, dan apabila selama proses adaptasi tidak mampu mengatasi stresor yang ada, maka dapat menyebar keseluruh tubuh efeknya dapat menyebabkan kematian tergantung stressor yang ada.

Indikator emosional / psikologi dan perilaku stress :
·         Ansietas
·         Depresi
·         Kepenatan
·         Peningkatan penggunaan bahan kimia
·         Perubahan dalam kebiasaan makan, tidur, dan pola aktivitas
·         Perasaan tidak adekuat
·         Kehilangan harga diri
·         Peningkatan kepekaan
·         Kehilangan motivasi
·         Ledakan emosional dan menangis.
·         Penurunan produktivitas dan kualitas kinerja pekerjaan.
·         Kecenderungan untuk membuat kesalahan (mis. buruknya penilaian).
·         Mudah lupa dan pikiran buntu
·         Kehilangan perhatian terhadap hal-hal yang rinci.
·         Preokupasi (mis. mimpi siang hari )
·         Ketidakmampuan berkonsentrasi pada tugas.
·         Peningkatan ketidakhadiran dan penyakit

Macam-Macam Respons Terhadap Stress
Komponen Psikologi
Pemajanan terhadap stresor mengakibatkan respons adaptasi psikologis dan fisiologis. Perilaku adaptif psikologis dapat konstruktif atau destruktif. Perilaku konstruktif membantu individu menerima tantangan untuk menyelesaikan konflik. Sedangkan perilaku destruktif mempengaruhi orientasi realitas, kemampuan pemecahan masalah, keperibadian, dan situasi yang sangat berat, kemampuan untuk berfungsi. Perilaku adapatif psikologis juga disebut sebagai mekanisme koping yang dibagi menjadi (2) yaitu :



a.      Taks Oriented Behavior
Perilaku berorientasi tugas mencakup penggunaan kemampuan kognitif untuk mengurangi stress, memecahkan masalah, menyelesaikan konflik dan memenuhi kebutuhan (Stuart & Sundeen, 1991). Perilaku berorientasi tugas memberdayakan seseorang untuk secara realistic menghadapi tuntutan stressor. 
b.      Ego Dependen Mekanisme
Mekanisme pertahanan ego yang pertama kali diuraikan oleh Sigmund Freud adalah perilaku tidak sadar yang memberikan perlindungan psikologis terhadap peristiwa yang menegangkan. Mekanisme ini digunakan oleh setiap orang dan membantu melindungi terhadap perasaan tidak berdaya dan ansietas. Kadang mekanisme pertahanan diri dapat menyimpang dan tidak lagi mampu untuk membantu seseorang dalam mengadaptasi stressor.
Adaptasi psikologis bisa terjadi secara :
a)      Sadar, individu mencoba memecahkan atau menyesuaikan diri dengan masalah
b)      Tidak sadar , menggunakan mekanisme pertahanan diri (defence mechanism)
c)      Menggunakan gejala fisik atau psikofisiologik/psikosomatik.
Apabila seseorang mempunyai kesulitan atau hambatan dalam beradaptasi, baik berupa tekanan, perubahan, maupun ketegangan emosi dapat menimbulkan stress.
Komponen psikologis
Dalam proses adaptasi secara psikologis terhadap dua cara untuk mempertahankan diri yaitu dengan melakukan koping atau mekanisme pertahanan diri.

KOPING
adalah proses yang dilalui oleh induvidu dalam melakukan situasi stressfull. Koping merupakan respon induvidu terhadap situasi yang mengancam dirinya baik fisik maupun psikologik. Koping efektip menghasilkan adaptasi yang menetap yang membiasakan kebiasaan baru dan perbaikan dalam situasi yang lama, sedangkan koping yang tidak efektif berakhir dengan maladaftif yaitu perilaku yang menyimpang dan dapat merugikan diri sendiri orang lain maupun diri sendiri.
koping psikologis
pada umumnya gejala yang ditimbulkan akibat sress psikologis tergantung pada 2 faktor yaitu:
Ø  bagaimana persepsi atau penerimaan induvidu terhadaap stressor artinya seberapa berat ancaman yang dirasakan terhadap induvidu tersebut terhadap stressor yang di terimanya.
Ø  Keefektifan starategi koping yang digunakan oleh induvidu.

Metode koping
Ada 2 metode koping yang digunakan oleh individu dalam mengatasi masalah psikologis seperti yang di temukan oleh bell ( 1977)
Dua metode tersebut antara lain :
a)      metode koping jangka panjang
cara ini adalah konstruktif dan merupakan cara yang efektif dan realitis dalam menangani masalah psikologis untuk kurun waktu yang lama contohnya adalah:
berbicara dengan orang lain ”curhat”, mencoba mencari lebih bannyak tentang masalah yang sedang di hadapi, melakukan latihan pisik untuk mengurangi ketegangan masalah
membuat berbagai anternatif tindakan untuk mengurangi situasi, mengambil pelajara dari peristiwa atau pengalaman masa lalu
b)     metode koping jangka pendek
cara ini digunakan untuk mengurangi ketegangan psikologis tapi efektif bila di gunakan dalam jangka panjang. Contohnya adalah:
menggunakan alkohol atau obat-obatan, melamun dan berfantasi, menangis, banyak tidur, banyak merokok, beralih pad aktifitas lain agar dapat melupakan masalah dll.
pada tingkat keluarga koping yang dilakukan dalam menghadapi masalah seperti yang di temukan oleh Mc cubbin (1979) adalah:
ü  mencari dukungan sosial seperti minta bantuan keluarga, teman-teman
ü  mencari dukungan spritual, berdoa, menemui pemuka agama atau aktif pada pertemuan ibdah dll.




DAFTAR PUSTAKA