A.
Kebutuhan
Cairan Elektrolit
1.
Gangguan Keseimbangan Asam Basa
a.
Asidosis Respiratorik
1.)
Pengertian
Asidosis Respiratorik adalah suatu
keadaan yang disebabkan oleh karena kegagalan sistem pernapasan dalam membuang
karbondioksida dari cairan tubuh. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya
kerusakan pada pernapasan dan penurunan pada pH yakni kurang dari 7,35. Keadaan
ini dapat disebabkan oleh adanya penyakit obstruksi, trauma kepala, perdarahan,
dll. Asidosis respiratorik dapat bersifat akut atau kronik.
2.)
Penyebab
Kondisi klinis yang dapat
menyebabkan retensi karbon dioksida dalam darah meliputi pneumonia, emfisema,
obstruksi kronis saluran pernapasan, stroke, atau trauma. Obat-obatan tertentu
atau penyalahgunaan obat akan menekan frekuensi pernapasan dan mengakibatkan
asidosis respiratorik.
3.)
Gejala
Gejala pertama berupa sakit kepala
dan rasa mengantuk. Jika keadaannya memburuk, rasa mengantuk akan berlanjut
menjadi stupor (penurunan kesadaran) dan koma. Stupor dan koma dapat terjadi
dalam beberapa saat jika pernafasan terhenti atau jika pernafasan sangat
terganggu, atau setelah berjam-jam jika pernafasan tidak terlalu terganggu.
Ginjal berusaha untuk mengkompensasi asidosis dengan menahan bikarbonat, namun
proses ini memerlukan waktu beberapa jam bahkan beberapa hari.
4.)
Diagnosa
Biasanya diagnosis ditegakkan
berdasarkan hasil pemeriksaan pH darah dan pengukuran karbondioksida dari darah
arteri.
5.)
Pengobatan
Pengobatan asidosis respiratorik
bertujuan untuk meningkatkan fungsi dari paru-paru. Obat-obatan untuk
memperbaiki pernafasan bisa diberikan kepada penderita penyakit paru-paru
seperti asma dan emfisema.Pada penderita yang mengalami gangguan pernafasan
yang berat, mungkin perlu diberikan pernafasan buatan dengan bantuan ventilator
mekanik.
b. Asidosis
Metabolik
1)
Pengertian
Suatu keadaan kehilangan basa atau
terjadi penumpukan asam. Keadaan ini ditandai dengan adanya penurunan pH kurang
dari 7,35 dan HCO3 kurang dari 22 mEq/L.
2)
Penyebab
paling umum
penyebab asidosis metabolik terjadi akibat ketoasidosis karena diabetes melitus
atau kelaparan, akumulasi asam laktat akibat peningkatan aktivitas otot rangka
seperti konvulsi, atau penyakit ginjal. Diare berat dan berkepanjangan disertai
hilangnya bikarbonat dapat menyebabkan asidosis.
3)
Gejala
Asidosis metabolik ringan bisa tidak
menimbulkan gejala, namun biasanya penderita merasakan mual, muntah dan kelelahan.
Pernafasan menjadi lebih dalam atau sedikit lebih cepat, namun kebanyakan
penderita tidak memperhatikan hal ini.
Sejalan dengan memburuknya asidosis,
penderita mulai merasakan kelelahan yang luar biasa, rasa mengantuk, semakin
mual dan mengalami kebingungan. Bila asidosis semakin memburuk, tekanan darah
dapat turun, menyebabkan syok, koma dan kematian.
4)
Diagnosa
Diagnosis asidosis biasanya
ditegakkan berdasarkan hasil pengukuran pH darah yang diambil dari darah arteri
(arteri radialis di pergelangan tangan). Darah arteri digunakan sebagai contoh
karena darah vena tidak akurat untuk mengukur pH darah.
Untuk
mengetahui penyebabnya, dilakukan pengukuran kadar karbon dioksida dan
bikarbonat dalam darah. Mungkin diperlukan pemeriksaan tambahan untuk membantu
menentukan penyebabnya. Misalnya kadar gula darah yang tinggi dan adanya keton
dalam urin biasanya menunjukkan suatu diabetes yang tak terkendali. Adanya
bahan toksik dalam darah menunjukkan bahwa asidosis metabolik yang terjadi
disebabkan oleh keracunan atau overdosis. Kadang-kadang dilakukan pemeriksaan
air kemih secara mikroskopis dan pengukuran pH air kemih.
5) Pengobatan
Pengobatan
asidosis metabolik tergantung kepada penyebabnya. Sebagai contoh, diabetes
dikendalikan dengan insulin atau keracunan diatasi dengan membuang bahan racun
tersebut dari dalam darah. Kadang-kadang perlu dilakukan dialisa untuk
mengobati overdosis atau keracunan yang berat.
Asidosis
metabolik juga bisa diobati secara langsung. Bila terjadi asidosis ringan, yang
diperlukan hanya cairan intravena dan pengobatan terhadap penyebabnya. Bila
terjadi asidosis berat, diberikan bikarbonat mungkin secara intravena, tetapi
bikarbonat hanya memberikan kesembuhan sementara dan dapat membahayakan.
c. Alkalosis
Respiratorik
1) Pengertian
Suatu keadaan kehilangan CO2
dari paru-paru yang dapat menimbulkan terjadinya paCO2 arteri kurang
dari 35 mmHg, pH lebih dari 7,45. Keadaan ini dapat disebabkan oleh karena
adanya hiperventilasi, kecemasan, emboli paru-paru, dan lain-lain.
2)
Penyebab
Hiperventilasi dapat disebabkan oleh
kecemasan, akibat demam, akibat pengaruh overdosis aspirin pada pusat
pernapasan, akibat hipoksia karena tekanan udara yang rendah didataran yang
tinggi, atau akibat anemia berat.
3)
Gejala
Alkalosis respiratorik dapat membuat
penderita merasa cemas dan dapat menyebabkan rasa gatal disekitar bibir dan
wajah. Jika keadaannya makin memburuk, bisa terjadi kejang otot dan penurunan
kesadaran.
4)
Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan
hasil pengukuran kadar karbondioksida dalam darah arteri pH darah juga sering
meningkat.
5)
Pengobatan
Biasanya satu-satunya pengobatan
yang dibutuhkan adalah memperlambat pernafasan. Jika penyebabnya adalah
kecemasan, memperlambat pernafasan bisa meredakan penyakit ini. Jika
penyebabnya adalah rasa nyeri, diberikan obat pereda nyeri.
Menghembuskan nafas dalam kantung
kertas (bukan kantung plastik) bisa membantu meningkatkan kadar karbondioksida
setelah penderita menghirup kembali karbondioksida yang dihembuskannya.
Pilihan lainnya adalah mengajarkan penderita
untuk menahan nafasnya selama mungkin, kemudian menarik nafas dangkal dan
menahan kembali nafasnya selama mungkin. Hal ini dilakukan berulang dalam satu
rangkaian sebanyak 6-10 kali. Jika kadar karbondioksida meningkat, gejala
hiperventilasi akan membaik, sehingga mengurangi kecemasan penderita dan
menghentikan serangan alkalosis respiratorik.
d. Alkalosis
Metabolic
1)
Pengertian
Alkalosis Metabolik adalah suatu
keadaan kehilangan ion hidrogen atau penambahan basa pada cairan tubuh dengan
adanya peningkatan bikarbonat plasma lebih dari 26 mEq/L dan pH arteri lebih
dari 7,45, atau secara umum keadaan asam basa dapat dilihat sebagaimana tabel
berikut :
|
HCO3 Plasma
|
pH Plasma
|
PaCO2 Plasma
|
Gangguan Asam Basa
|
|
Meningkat
|
Menurun
|
Meningkat
|
Asidosis Respiratorik
|
|
Menurun
|
Menurun
|
Menurun
|
Asidosis Metabolik
|
|
Menurun
|
Meningkat
|
Menurun
|
Alkalosis Respiratorik
|
|
Meningkat
|
Meningkat
|
Meningkat
|
Alkalosis Metabolik
|
2)
Penyebab
Penyebab
alkalosis metabolik yaitu muntah yang berkepanjangan (pengeluaran asam klorida
lambung). Disfungsi ginjal, pengobatan dengan diurektikyang mengakibatkan
hipokalemia dan penipisan volume CES, atau pemakaian antasid berlebihan dapat
menyebabkan alkalosis metabolik.
3)
Gejala
Alkalosis metabolik dapat
menyebabkan iritabilitas (mudah tersinggung), otot berkedut dan kejang otot;
atau tanpa gejala sama sekali. Bila terjadi alkalosis yang berat, dapat terjadi
kontraksi (pengerutan) dan spasme (kejang) otot yang berkepanjangan (tetani).
4)
Diagnosa.
Dilakukan pemeriksaan darah arteri
untuk menunjukkan darah dalam keadaan basa.
5)
Pengobatan.
Biasanya alkalosis metabolik diatasi
dengan pemberian cairan dan elektrolit (natrium dan kalium) . Pada kasus yang
berat, diberikan amonium klorida secara intravena.
PENGATURAN
ELEKTROLIT
1. Pengaturan keseimbangan natrium
Natrium
merupakan kation dalam tubuh yang berfungsi dalam pengaturan osmolaritas dan
volume cairan tubuh. Natrium ini paling banyak pada cairan ekstrasel.
Pengaturan konsentrasi cairan ekstrasel diatur oleh ADH dan aldosteron. ADH
mengatur sejumlah air yang diserap kembali kedalam ginjal dari tubulus renalis.
Sedangkan aldosteron dihasilkan oleh korteks suprarenal yang berfungsi untuk
mempertahankan keseimbangan konsentrasi natrium dalam plasma dan prosesnya
dibantu oleh ADH. Aldosteron juga mengatur keseimbangan jumlah natrium yang
diserap kembali oleh darah. Natrium tidak hanya bergerak kedalam atau keluar
tubuh, tetapi juga mengatur keseimbangan cairan tubuh. Ekskresi natrium dapat
dilakukan melalui ginjal dan sebagian kecil melalui tinja, keringat, dan air mata.
2. Pengaturan keseimbangan kalium
Kalium
merupakan kation utama yang terdapat dalam cairan intrasel dan berfungsi
mengatur keseimbangan elektrolit. Keseimbangan kalium diatur oleh ginjal dengan
mekanisme perubahan ion natrium dalam tubulus ginjal dan sekresi aldosteron.
Aldosteron juga berfungsi mengatur keseimbangan kadar kalium dalam plasma (cairan
ekstrasel). Sistem pengaturannya melalui tiga langkah, yaitu :
a.
Peningkatan konsentrasi kalium dalam cairan ekstrasel
yang menyebabkan peningkatan produksi aldosteron.
b.
Peningkatan jumlah aldosteron akan memengaruhi jumlah
kalium yang dikeluarkan melalui ginjal.
c.
Peningkatan pengeluaran kalium; konsentrasi kalium
dalam cairan ekstra sel menurun.
Kalium berpengaruh terhadap fungsi sistem pernapasan.
Partikel penting dalam kalium ini berfungsi untuk menghantarkan impuls listrik
ke jantung, otot lain, jaringan paru-paru, dan jaringan usus pencernaan.
Ekskresi kalium dilakukan melalui urine, dan sebagian lagi melalui tinja dan
keringat.
3. Pengaturan keseimbangan kalsium
Kalsium
dalam tubuh berfungsi dalam pembentukan tulang, penghantar impuls kontraksi
otot, koagulasi darah (pembekuan darah), dan membantu beberapa enzim pankreas.
Konsentrasi kalsium dalam tubuh diatur langsung oleh hormon paratiroid melalui
proses reabsorpsi tulang. Jika kadar kalsium darah menurun, kelenjar paratiroid
akan merangsang pembentukan hormon paratiroid yang langsung meningkatkan jumlah
kalsium dalam darah. Kalsium diekskresi melalui urine dan keringat.
4. Pengaturan keseimbangan magnesium
Magnesium
merupakan kation dalam tubuh yang terpenting kedua dalam cairan intrasel.
Keseimbangannya diatur oleh kelenjar paratiroid. Magnesium diabsorpsi dari
saluran pencernaan. Magnesium dalam tubuh dipengaruhi oleh konsentrasi kalsium.
Hipomagnesemia terjadi bila konsentrasi serum turun kurang dari 1,5 mEq/L.
Sedangkan hipermagnesemia terjadi bila kadar magnesiumnya lebih dari 2,5 mEq/L.
5. Pengaturan keseimbangan klorida
Klorida
merupakan anion utama dalam cairan ekstrasel, tetapi klorida dapat ditemukan
pada cairan ekstrasel dan intrasel. Fungsi klorida biasanya bersatu dengan
natrium yaitu mempertahankan keseimbangan tekanan osmotik dalam darah.
Hipokloremia merupakan suatu keadaan kekurangan kadar klorida dalam darah.
Sedangkan hiperkloremia merupakan kelebihan kadar klorida dalam darah. Kadar
klorida yang normal dalam darah orang dewasa adalah 95-108 mEq/L.
6. Pengaturan
keseimabangan bikarbonat
Bikarbonat
merupakan elektrolit utama dalam larutan buffer (penyangga) dalam tubuh.
7. Pengaturan keseimbangan fosfat (PO4)
Fosfat
bersama-sama dengan kalsium berfungsi dalam pembentukan gigi dan tulang. Fosfat
diserap dari saluran pencernaan dan dikeluarkan melalui urine.
JENIS CAIRAN ELEKTROLIT
Cairan
elektrolit adalah cairan saline atau cairan yang memiliki sifat bertegangan
tetap. Cairan saline terdiri atas cairan isotonik, hipotonik, dan hipertonik.
Konsentrasi isotonik disebut juga normal saline yang banyak dipergunakan.
Contohnya :
1.
Cairan Ringer’s terdiri atas : Na+, K+,
Cl-, dan Ca2+.
2.
Cairan Ringer’s Laktat, terdiri atas : Na+,
K+, Mg2+, Cl-, dan HCO3-.
3.
Cairan Buffer’s, terdiri atas : Na+, K+,
Mg2+, Cl-, dan HCO3-.
GANGGUAN/MASALAH KEBUTUHAN ELEKTROLIT
1. Hiponatremia
Hiponatremia
merupakan suatu keadaan kekurangan kadar natrium dalam plasma darah yang
ditandai dengan adanya kadar natrium plasma yang kurang dari 135 mEq/L, mual,
muntah, dan diare. Hal tersebut menimbulkan rasa haus yang berlebihan, denyut
nadi cepat, hipotensi, konvulsi, dan membran mukosa kering. Sesuai dengan
penjelasan sebelumnya, maka hiponatremia ini dapat disebabkan oleh kekurangan
cairan yang berlebihan seperti kondisi diare yang berkepanjangan.
2. Hipernatremia
Hipernatremia
merupakan suatu keadaan dimana kadar natrium dalam plasma tinggi yang ditandai
dengan adanya mukosa kering, oliguria/anuria, turgor kulit buruk dan permukaan
kulit membengkak, kulit kemerahan, lidah kering dan kemerahan, konvulsi, suhu
badan naik, serta kadar natrium dalam plasma lebih dari 145 mEq/L. Kondisi
demikian dapat disebabkan oleh dehidrasi, diare, dan asupan air yang berlebihan
sedangkan asupan garamnya sedikit.
3. Hipokalemia
Hipokalemia
suatu keadaan kekurangan kadar kalium dalam darah. Hipokalemia ini dapat
terjadi dengan sangat cepat. Sering terjadi pada pasien yang mengalami diare
berkepanjangan. Kondisi hipokalemia ditandai dengan lemahnya denyut nadi,
turunnya tekanan darah, tidak nafsu makan dan muntah-muntah, perutnya kembung,
lemah dan lunaknya otot, denyut jantungnya tidak beraturan (aritmia), penurunan
bising usus, serta kadar kalium plasmanya menurun hingga kurang dari 3,5 mEq/L.
4. Hiperkalemia
Hiperkalemia
merupakan suatu keadaan dimana kadar kalium dalam darah tinggi. Keadaan ini
sering terjadi pada pasien luka bakar, penyakit ginjal, asidosis metabolik,
pemberian kalium yang berlebihan melalui intravena. Hiperkalemia ditandai
dengan adanya mual, hiperaktivitas sistem pencernaan, aritmia, kelemahan,
jumlah urine sedikit sekali, diare, adanya kecemasan dan iritabilitas (peka
rangsang), serta kadar kalium dalam plasma mencapai lebih dari 5 mEq/L.
5. Hipokalsemia
Hipokalsemia
merupakan kekurangan kadar kalsium dalam plasma darah. Hipokalsemia ditandai
dengan adanya kram otot dan kram perut, kejang, bingung, kadar kalsium dalam
plasma kurang dari 4,3 mEq/L, serta kesemutan pada jari dan sekitar mulut.
Keadaan ini dapat disebabkan oleh pengaruh pengangkatan kelenjar gondok atau
kehilangan sejumlah kalsium karena sekresi intestinal.
6. Hiperkalsemia
Hiperkalsemia
merupakan suatu keadaan kelebihan kadar kalsium dalam darah. Hal ini terjadi
pada pasien yang mengalami pengangkatan kelenjar gondok dan makan vitamin D
secara berlebihan. Hiperkalsemia dengan adanya nyeri pada tulang, relaksasi
otot, batu ginjal, mual-mual, koma, dan kadar kalsium dalam plasma lebih dari
4,3 mEq/L.
7. Hipomagnesia
Hipomagnesia
merupakan kekurangan kadar magnesium dalam darah. Hipomagnesia ditandai dengan
adanya iritabilitas, tremor, kram pada kaki dan tangan, takikardi, hipertensi,
disorientasi dan konvulsi, serta kadar magnesium dalam darah kurang dari 1,3
mEq/L.
8. Hipermagnesia
Hipermagnesia
merupakan kondisi kelebihan kadar magnesium dalam darah. Hal ini ditandai
dengan adanya koma, gangguan pernapasan, dan kadar magnesium lebih dari 2,5
mEq/L.
I.
TINDAKAN
UNTUK MENGATASI MASALAH/GANGGUAN DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN CAIRAN DAN
ELEKTROLIT.
1. Pemberian cairan melalui infus
Pemberian
cairan melalui infus merupakan tindakan memasukkan cairan melalui intravena
yang dilakukan pada pasien dengan bantuan perangkat infus. Tindakan ini
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit serta sebagai tindakan
pengobatan dan pemberian makanan
Persiapan alat dan bahan :
a.
Standar infus
b.
Perangkat infus
c.
Cairan sesuai dengan kebutuhan pasien
d.
Jarum infus /abocath atau sejenisnya sesuai dengan
ukuran
e.
Pengalas
f.
Tourniquet / pembendung
g.
Kapas alkohol 70%
h.
Plester
i.
Gunting
j.
Kasa steril
k.
Betadine TM
l.
Sarung tangan
Prosedur
kerja :
a.
Cuci tangan
b.
Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan
dilakukan
c.
Hubungkan cairan dan perangkat infus dengan menusukkan
kedalam botol infus (cairan)
d.
Isi cairan kedalam perangkat infus dengan menekan
bagian ruang tetesan hingga ruangan tetesan terisi sebagian,kemudian buka
penutup hingga selang terisi dan keluar udaranya
e.
Letakkan pengalas
f.
Lakukan pembendungan dengan tourniquet
g.
Gunakan sarung tangan
h.
Desinfeksi daerah yang akan ditusuk
i.
Lakukan penusukan dengan arah jarum keatas
j.
Cek apakah sudah mengenai vena dengan ciri darah
keluar melalui jarum infus/abocath
k.
Tarik jarum infus dan hubungkan dengan selang infus
l.
Buka tetesan
m.
Lakukan desinfeksi dengan BetadineTM dan
tutup dengan kasa steril
n.
Beri tanggal dan jam pelaksanaan infus pada plester
o.
Catat respons yang terjadi
p.
Cuci tangan.
CARA
MENGHITUNG TETESAN INFUS :
a.
Dewasa : (Makro dengan 20 tetes/ ml)
|
Tetesan / Menit =
|
Jumlah cairan yang masuk
|
|
Lamanya infus (jam) x 3
|
Atau
|
Tetesan / Menit :
|
∑ Keb. Cairan x Faktor tetesan
|
|
Lama infus (jam) x 60 menit
|
Keterangan :
Faktor
tetesan infus bermacam-macam,hal ini dapat dilihat pada label infus (10
tetes/menit, 15 tetes/menit, dan 20 tetes/menit).
Contoh :
Seorang
pasien dewasa diperlukan rehidrasi dengan 1000 ml (2 botol) dalam 1 jam maka
tetesan per menit adalah :
|
Tetesan / Menit =
|
1000 ml
|
= 333/menit
|
|
1 x 3
|
Atau
|
Tetesan / Menit :
|
1000 ml x 20
|
= 333 / menit
|
|
1 x 60 menit
|
b.
Anak
|
Tetesan/Menit(mikro) =
|
Jumlah cairan yang masuk
|
|
Lamanya infus (jam)
|
Contoh :
Seorang
pasien neonatus diperlukan rehidrasi dengan 250 µl dalam 2 jam ,maka tetesan
permenit adalah :
|
Tetesan/Menit (mikro)=
|
250
|
= 125 tetes/menit
|
|
2
|
Jenis Cairan Infus:
1.
Cairan hipotonik:
Osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi
ion Na+ lebih
rendah
dibandingkan
serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan
“ditarik” dari
dalam
pembuluh
darah
keluar
kejaringan
sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel yang
dituju. Digunakan
pada
keadaan
sel “mengalami” dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah
(dialisis) dalam
terapi
diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi)
dengan
asidosis
diabetik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah kesel,
menyebabkan
kolaps
kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak)
padabeberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.
2.
Cairan Isotonik:
osmolaritas
(tingkat
kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di
dalam
pembuluh
darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi
(kekurangan
cairan
tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya
overload (kelebihan
/cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat
(RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).
3.
Cairan hipertonik:
Osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan
serum, sehingga “menarik” cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel kedalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi
edema (bengkak). Penggunaan
banyak
ontradiktif
dengan
cairan
hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose
5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah
(darah), dan albumin.
Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya:
Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya:
·
Kristaloid:
Bersifat isotonik,
maka
efektif
dalam
mengisi
sejumlah volume cairan (volume expanders) kedalam pembuluh darah dalam waktu yang
singkat, dan
berguna
pada
pasien
yang
memerlukan
cairan
segera. Misalnya Ringer-Laktat dan garam fisiologis.
·
Koloid:
Ukuran molekulnya
(biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan keluar dari membran ekapiler, dan tetap berada dalam pembuluh darah, maka sifatnya hipertonik, dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah.
Contohnya
adalah
albumin
dan steroid.
JENIS-JENIS CAIRAN INFUS
·
ASERING
Indikasi:
Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut, demamberdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma.
Komposisi:
Setiap liter asering mengandung:
Indikasi:
Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut, demamberdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma.
Komposisi:
Setiap liter asering mengandung:
·
Na 130 mEq
·
K 4 mEq
·
Cl 109 mEq
·
Ca 3 mEq
·
Asetat (garam) 28 mEq
Keunggulan:
1.
Asetat dimetabolisme
di otot, dan
masih
dapat
ditolelir
pada
pasien yang mengalami gangguan hati
2.
Pada pemberian sebelum operasi sesar, RA
mengatasi
asidosis
laktat
lebih
baik
dibanding RL pada neonatus
3.
Pada kasus bedah,
asetat
dapat
mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi dengan iso fluran
4.
Mempunyai efek
vasodilator
5.
Pada kasus stroke
akut, penambahan
MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml RA,
dapat
meningkat
kantonisitas
larutan
infuse
sehingga
memperkecil
risiko
memperburuk edema serebral
·
KA-EN1B
Indikasi:
Indikasi:
1. Sebagai larutan awal bila status
elektrolit
pasien
belum
diketahui, misal pada kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral
tidak
memadai, demam)
2.
< 24 jam pasca operasi
3.
Dosis lazim
500-1000 ml untuk
sekali pemberian secara IV.
Kecepatan
sebaiknya 300-500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak
4.
Bayi premature atau bayi baru lahir,
sebaiknya
tidak
diberikan
lebih
dari 100 ml/jam
·
KA-EN 3A & KA-EN 3B
Indikasi:
Indikasi:
1.
Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air
dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral
terbatas
2.
Rumatan untuk kasus pasca operasi
(> 24-48 jam)
3.
Mensuplai kalium sebesar 10
mEq/L untuk KA-EN 3A
4.
Mensuplai kalium sebesar 20
mEq/L untuk KA-EN 3B
·
KA-EN MG3
Indikasi :
Indikasi :
1. Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral
terbatas
2.
Rumatan untuk kasus pasca operasi
(> 24-48 jam)
3.
Mensuplai kalium 20
mEq/L
4.
Rumatanuntukkasusdimanasuplemen NPC
dibutuhkan 400 kcal/L
·
KA-EN 4A
Indikasi :
Indikasi :
1. Merupakan larutan infuse rumatan untuk bayi dan anak
2.
Tanpa kandungan kalium,
sehingga
dapat
diberikan
pada
pasien
dengan
berbagai
kadar
konsentrasi
kalium serum normal
3.
Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik
Komposisi
(per 1000 ml):
·
Na 30 mEq/L
·
K 0 mEq/L
·
Cl 20 mEq/L
·
Laktat 10 mEq/L
·
Glukosa 40 gr/L
·
KA-EN 4B
Indikasi:
1. Merupakan larutan infuse rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3
tahun
2.
Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko hipokalemia
3.
Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik
Komposisi:
o
Na 30 mEq/L
o
K 8 mEq/L
o
Cl 28 mEq/L
o
Laktat 10 mEq/L
o
Glukosa 37,5 gr/L
·
Otsu-NS
Indikasi:
Indikasi:
1. Untuk resusitasi
2. Kehilangan
Na > Cl, missaldiare
3. Sindrom yang
berkaitan
dengan
kehilangan
natrium (asidosis diabetikum, insufi siensi adreno kortikal,
luka
bakar)
·
Otsu-RL
Indikasi:
Indikasi:
1. Resusitasi
2.
Suplai ion bikarbonat
3.
Asidosis metabolik
·
MARTOS-10
Indikasi:
Indikasi:
1. Suplai air
dan karbohidrat secara
parenteral
pada
penderita
diabetik
2.
Keadaan kritis lain
yang membutuhkan
nutrisi
eksogen
seperti tumor, infeksiberat, stress berat dan defisiensi
protein
3.
Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam
4.
Mengandung 400 kcal/L
·
AMIPAREN
Indikasi:
Indikasi:
1. Stres metabolic berat
2.
Luka bakar
3.
Infeksi berat
4.
Kwasiokor
5.
Pasca operasi
6.
Total Parenteral Nutrition
7.
Dosis dewasa 100
ml selama 60 menit
·
AMINOVEL-600
Indikasi:
Indikasi:
1. Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI
2.
Penderita GI yang dipuasakan
3.
Kebutuhan metabolik yang meningkat (missal luka bakar,
trauma dan
pasca
operasi)
4.
Stres metabolik sedang
5.
Dosis dewasa 500
ml selama 4-6 jam (20-30 tpm)
·
PAN-AMIN G
Indikasi:
Indikasi:
1.
Suplai asam amino
pada
hiponatremia
dan
stress
metabolic
ringan
2. Nitrisi dini pasca operasi
Konsep Diri Dan Harga Diri
è Konsep Diri
Pendahuluan
:
§ KD adalah Semua perasaan, kepercayaan dan nilai
yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam
berhubungan dengan orang lain.
§ Berkembang secara bertahap,
saat bayi mulai mengenal dan membedakan diri dengan orang lain.
§ Pembentukan KD dipengaruhi asuhan
orang tua dan lingkungan.
§ Tercapai aktualisasi diri ( Hirarkhi
maslow) → Perlu KD yang sehat.
Komponen KD
:
1.
Body Image ( Citra tubuh)
·
Sikap
terhadap tubuh secara sadar dan tidak sadar
·
Mencakup
persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, dan fungsi penampilantubuh dulu
dan sekarang
2.
Ideal diri
·
Persepsi
individu → bagaimana harus berprilaku sesuai standar prilaku.
·
Akan
mewujudkan cita-cita dan harapan pribadi.
3.
Harga diri (HD)
·
Penilaian
terhadap hasil yang dicapai dengan analisis → sejauh mana prilaku memenuhi
ideal diri.
·
Sukses → HD
tinggi, gagal → HD rendah
·
HD diperolah
dari diri sendiri dan orang lain.
4.
Peran diri (PD).
·
Pola sikap,
prilaku nilai yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat.
5.
Identitas Diri
·
Kesadaran
akan dirinya sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan
sintesis dari semua aspek dari KD sebagai suatu kesatuan yang utuh.
Faktor yang
mempengaruhi KD :
1. Tingkat perkembangan dan kematangan (Dukungan
mental, perlakuan dan pertumbuhan anak)
2. Budaya (Usia anak → nilai diadopsi
dari orang tua)
3. Sumber eksternal dan internal
Eksternal →
Dukungan masyarakat, ekonomi yang bagus.
Internal →
humoris, agamis, berpendidikan
4. Pengalaman sukses dan gagal → meningkatkan/menurunkan
KD.
5. Stresor
Stresor
(perkawinan, pekerjaan baru, ujian, ketakutan, PHK, dll), jika koping tidak
efektif → depresi, menarik diri dan kecemasan.
6. Usia, keadaan sakit dan trauma →
mempengaruhi persepsi diri
Kriteria
Kepribadian sehat :
a. Citra tubuh yang positif dan kuat
b. ideal dan realitas
c. Konsep diri yang positif
d. Harga diri yang tinggi
e. Kepuasan penampilan peran
f. Identitas jelas.
Ciri konsep
diri rendah (carpenito, 1995)
a. Menghindari sentuhan atau melihat
bagian tubuh tertentu.
b. Tidak mau berkaca
c. Menghindari diskusi tentan topic
dirinya.
d. Menolak usaha rehabilitasi.
e. Melakukan usaha sendiri dengan tidak
tepat
f. Menginglari perubahan pada dirinya.
g. Peningkatan ketergantungan pada
orang lain.
h. Adanya tanda keresahan seperti
marah, putus asa, menangis.
i.
Menolak
berpartisipasi dalam perawatan diri.
j.
Tingkah laku
merusak, seperti penggunaan narkoba.
k. Menghindari kontak social.
l.
Kurang
percaya diri
Faktor
risiko gangguan konsep diri
1. Gangguan identitas diri
§ Perubahan perkembangan.
§ Trauma
§ Jenis kelamin yang tidak sesuai
§ Budaya yang tidak sesuai
2. Gangguan
citra tubuh (body image)
§ Hilangnya bagian tubuh
§ Perubahan perkembangan
§ Kecacatan
3. Gangguan
harga diri
§ Hubungan interpersonal yang tidak
harmonis
§ Kegagalan perkembangan
§ Kegagalan mencapai tujuan hidup
§ Kegagalan dalam mengikuti aturan
normal
4. Gangguan
peran
§ Kehilangan peran
§ Peran ganda
§ Konflik peran
Harga diri
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil
yang dicapai dengan menganalisis seberapa banyak kesesuaian tingkah laku dengan
ideal dirinya. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain yaitu
dicintai, dihormati dan dihargai. Individu akan merasa harga dirinya tinggi
bila sering mengalami keberhasilan, sebaliknya individu akan merasa harga dirinya
rendah bila sering mengalami kegagalan, tidak dicintai atau diterima
lingkungan. Pada masa dewasa akhir timbul masalah harga diri karena adanya
tantangan baru sehubungan dengan pensiun, ketidakmampuan fisik, brepisah dari
anak, kehilangan pasangan dan sebagainya (Suliswati, dkk, 2005). Seseorang
memiliki konsep diri yang baik berkaitan dengan harga diri apabila mampu
menunjukkan keberadaannya dibutuhkan oleh banyak orang, dan menjadi bagian yang
dihormati oleh lingkungan sekitar.
Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain.
Manusia cenderung bersikap negatif, walaupun ia cinta dan mengenali kemampuan
orang lain namun ia jarang mengekspresikannya. Harga diri akan rendah jika
kehilangan kasih sayang dan penghargaan dari orang lain serta mengalami
ketidakmampuan pada dirinya dan juga sebaliknya (Perry & Potter, 2005).
Faktor predisposisi gangguan harga diri meliputi
penolakan dari orang lain, kurang penghargaan, pola asuh yang salah, terlalu
dilarang, terlalu dikontrol, terlalu dituruti, terlalu dituntut dan tidak
konsisten, persaingan antar saudara, kesalahan dan kegagalan yang berulang, dan
tidak mampu mencapai standar yang ditentukan (Suliswati, dkk, 2005).
PRINSIP PEMENUHAN KEBUTUHAN
PSIKOSOSIAL DAN RASA NYAMAN (BEBAS NYERI)
Kebutuhan Sosial
Hak-Hak Pasien
Hak
pasien merupakan bagian dari hak manusia, mengingat hak merupakan tuntutan
secara rasional dalam situasi tertentu. Setiap manusia mempunyai hak untuk
dihargai sebagai manusia. Beberapa hak pasien dalam pelayanan kesehatan, adalah
sebagai berikut :
a.
Hak
mendapatkan pelayanan kesehatan yang adil,memadai dan berkualitas.
b.
Hak
untuk diberikan informasi
c.
Hak
untuk dilibatkan dalam pembuatan keputusan tentang pengobatan dan perawatan
d.
Hak
untuk diberikan informed consent
e.
Hak
untuk menolak suatu consent
f.
Hak
untuk mengetahui nama dan status tenaga kesehatan yang menolong
g.
Hak
untuk mempunyai pendapat
h.
Hak
untuk diperlakukan secara hormat
i.
Hak
untuk konfidentialitas memperoleh kerahasiaan termasuk privasi
j.
Hak
untuk memilih integritas tubuh
k.
Hak
untuk kompensasi terhadap cedera yang tidak legal
l.
Hak
untuk mempertahankan kemuliaan (dignitas)
KEBUTUHAN
RASA NYAMAN (BEBAS NYERI)
PENGERTIAN
NYERI
Nyeri merupakan kondisi
berupa perasaan yang tidak menyenangkan. Sifatnya sangat subjektif karena
perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan
hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri
yang dialaminya. Berikut ini merupakan pendapat beberapa ahli mengenai
pengertian nyeri :
1.
Mc. Coffery (1979), mendefinisikan nyeri
sebagai suatu keadaan yang memengaruhi seseorang, yang keberadaan nyeri dapat
diketahui hanya jika orang tersebut pernah mengalaminya.
2.
Wolf weifsel feurst (1974), mengatakan
nyeri merupakan suatu perasaan menderita secara fisik dan mental atau perasaan
yang bisa menimbulkan ketegangan.
3.
Artur C. Curton (1983), mengatakan bahwa
nyeri merupakan suatu mekanisme bagi tubuh, timbul ketika jaringan sedang
dirusak sehingga individu tersebut bereaksi untuk menghilangkan rangsangan
nyeri.
4.
Secara umum, nyeri diartikan sebagai
suatu keadaan yang tidak menyenangkan akibat terjadinya rangsangan fisik maupun
dari serabut saraf dalam tubuh ke otak dan diikuti oleh reaksi fisik,
fisiologis, maupun emosional
FISIOLOGI NYERI
Munculnya nyeri sangat
berkaitan erat dengan reseptor dan adanya rangsangan, reseptor nyeri yang
dimaksud adalah nociceptor, merupakan ujung-ujung saraf sangat bebas yang
memiliki sedikit mielin yang tersebar pada kulit dan mukosa, khususnya pada
visera, persendian, dinding arteri, hati, dan kantong empedu. Reseptor nyeri
dapat memberikan respons akibat adanya stimulasi atau rangsangan. Stimulasi
tersebut dapat berupa kimiawi, termal, listrik, atau mekanis. Stimulasi oleh
zat kimiawi diantaranya seperti histamin, bradikinin, prostaglandin, dan
macam-macam asam seperti adanya asam lambung yang meningkat pada gastritis atau
stimulasi yang dilepas apabila terdapat kerusakan pada jaringan.
Selanjutnya, stimulasi yang diterima oleh reseptor
tersebut ditransmisikan berupa impuls-impuls nyeri ke sumsum tulang belakang
oleh dua jenis serabut, yaitu serabut A (delta) yang bermielin rapat dan
serabut lamban (serabut C). Impuls-impuls yang ditransmisikan oleh serabut
delta A mempunyai sifat inhibitor yang ditransmisikan ke serabut C.
Serabut-serabut aferen masuk ke spinal melalui akar dorsal (dorsal root) serta
sinaps pada dorsal horn. Dorsal horn tersebut terdiri atas beberapa lapisan
atau lamina yang saling bertautan. Diantara lapisan dua dan tiga membentuk substantia gelatinosa yang merupakan
saluran utama impuls. Kemudian, impuls nyeri menyeberangi sumsum tulang
belakang pada interneuron dan bersambung ke jalur spinal asendens yang paling
utama, yaitu jalur spinothalamic tract (STT)
atau jalur spinothalamus dan spinorecticular tract (SRT) yang membawa
informasi mengenai sifat dan lokasi nyeri. Dari proses transmisi terdapat dua
jalur mekanisme terjadinya nyeri, yaitu jalur
opiate dan jalur nonopiate. Jalur
opiate dari talamus, yang melalui otak tengah dan medula, ke tanduk dorsal
sumsum tulang belakang yang berkonduksi dengan nociceptor impuls supresif.
Serotonin merupakan neurotransmiter dalam impuls supresif. Sistem supresif
lebih mengaktifkan stimulasi nociceptor yang ditransmisikan oleh serabut A.
Jalur nonopiate merupakan jalur desenden yang tidak memberikan respons terhadap
naloxone yang kurang banyak diketahui mekanismenya (Long 1989).
KLASIFIKASI NYERI
Klaisfikasi nyeri
secara umum dibagi menjadi dua, yakni nyeri akut dan kronis. Nyeri akut
merupakan nyeri yang timbul secara mendadak dan cepat menghilang, tidak
melebihi enam bulan, serta ditandai dengan adanya peningkatan tegangan otot.
Nyeri kronis merupakan nyeri yang timbul secara perlahan-lahan, biasanya
berlangsung dalam waktu cukup lama, yaitu lebih dari enam bulan. Yang termasuk
dalam kategori nyeri kronis adalah nyeri terminal, sindrom nyeri kronis, dan
nyeri psikosomatis.
Terdapat jenis nyeri
yang spesifik, diantaranya nyeri somatis, nyeri viseral, nyeri menjalar
(referent pain), nyeri psikogenik, nyeri phantom dari ekstremitas, nyeri
neurologis, dll. Umumnya, nyeri somatis dan nyeri viseral ini bersumber dari
kulit jaringan dibawah kulit (superfisial), yaitu pada otot dan tulang.
Nyeri menjalar adalah
nyeri yang terasa pada bagian tubuh yang lain, umumnya terjadi akibat kerusakan
pada cedera organ viseral. Nyeri psikogenik adalah nyeri yang tidak diketahui
secara fisik, biasanya timbul akibat psikologis. Nyeri phantom adalah nyeri
yang disebabkan karena salah satu ekstremitas diamputasi. Nyeri neurologis
adalah bentuk nyeri yang tajam karena adanya spasme disepanjang atau dibeberapa
jalur saraf.
STIMULUS NYERI
Seseorang dapat
menoleransi, menahan nyeri (pain tolerance), atau dapat mengenali jumlah
stimulusi nyeri sebelum merasakan nyeri (pain threshold). Terdapat beberapa
jenis stimulus nyeri, diantaranya :
1.
Trauma pada jaringan tubuh. Misalnya
karena bedah, akibat terjadinya kerusakan jaringan dan iritasi secara langsung
pada reseptor.
2.
Gangguan pada jaringan tubuh. Misalnya
karena edema, akibat terjadinya penekanan pada reseptor nyeri.
3.
Tumor, dapat juga menekan reseptor
nyeri.
4.
Iskemia pada jaringan. Misalnya terjadi
blokade pada arteria koronaria yang menstimulasi reseptor nyeri akibat
tertumpuknya asam laktat.
5.
Spasme otot, dapat menstimulasi mekanik.
Faktor yang memengaruhi nyeri
1.
Arti nyeri
Arti
nyeri bagi individu memiliki banyak perbedaan dan hampir sebagian arti nyeri
tersebut merupakan arti yang negatif, seperti membahayakan, merusak, dan
lain-lain. Keadaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia, jenis
kelamin, latar belakang sosial kultural, lingkungan dan pengalaman.
2.
Persepsi nyeri
Persepsi
nyeri merupakan penilaian sangat subjektif, tempatnya pada korteks (pada fungsi
evaluatif secara kognitif). Persepsi ini dipengaruhi oleh faktor yang dapat
memicu stimulasi nociceptor.
3.
Toleransi nyeri
Toleransi
ini erat hubungannya dengan adanya intensitas nyeri yang dapat memengaruhi
seseorang menahan nyeri. Faktor yang dapat memengaruhi peningkatan toleransi
nyeri antara lain alkohol, obat-obatan, hipnotis, gesekan dan garukan,
pengalihan perhatian, kepercayaan yang kuat, dll. Sedangkan faktor yang
menurunkan toleransi antara lain kelelahan, rasa marah, bosan, cemas, nyeri
yang tidak kunjung hilang, sakit, dan lain-lain.
4.
Reaksi terhadap nyeri
Reaksi
terhadap nyeri merupakan bentuk respons seseorang terhadap nyeri, seperti
ketakutan, gelisah, cemas, menangis, dan menjerit. Semua ini merupakan bentuk
respons nyeri yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti: arti nyeri,
tingkat persepsi nyeri, pengalam masa lalu, nilai budaya, harapan sosial,
kesehatan fisik dan mental, takut, cemas, usia, dan lain-lain.
Hubungan sosial
Hubungan sosial dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu proses yang asosiatif dan disosiatif. Hubungan sosial asosiatif
merupakan hubungan yang bersifat positif, artinya hubungan ini dapat mempererat
atau memperkuat jalinan atau solidaritas kelompok. Adapun hubungan sosial
disosiatif merupakan hubungan yang bersifat negatif, artinya hubungan ini dapat
merenggangkan atau menggoyahkan jalinan atau solidaritas kelompok yang telah
terbangun.
Hubungan sosial asosiatif adalah proses interaksi yang
cenderung menjalin kesatuan dan meningkatkan solidaritas anggota kelompok.
Hubungan sosial asosiatif memiliki bentuk-bentuk berikut ini.
a.
Kerja sama
b.
Akomodasi; dapat
diartikan sebagai suatu keadaan atau sebagai suatu proses. Sebagai keadaan,
akomodasi adalah suatu bentuk keseimbangan dalam interaksi antarindividu atau
kelompok manusia dalam kaitannya dengan norma sosial dan nilai sosial yang
berlaku. n masalah yang terjadi dapat dilakukan.
c.
Asimilasi;
adalah proses sosial yang timbul apabila ada kelompok masyarakat dengan latar
belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul secara interaktif dalam jangka
waktu lama.
d.
Akulturasi;
adalah suatu keadaan diterimanya unsur-unsur budaya asing ke dalam kebudayaan
sendiri.
a.
Persaingan;
adalah suatu proses sosial yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam
usahanya mencapai keuntungan tertentu tanpa adanya ancaman atau kekerasan dari
para pelaku.
b.
Kontravensi;
merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dengan
pertentangan atau pertikaian. Kontravensi adalah sikap mental yang tersembunyi
terhadap orang atau unsur-unsur budaya kelompok lain.
c.
Pertentangan/Perselisihan; adalah suatu proses sosial di mana individu atau
kelompok menantang pihak lawan dengan ancaman dan atau kekerasan untuk mencapai
suatu tujuan.
DAFTAR PUSTAKA
Uliyah Musrifatul,2008, Keterampilan Dasar
Praktek Klinik untuk Kebidanan, , Jakarta:Salemba Medika.
Adhe Febriana, 2013, Makalah Konsep
Dasar Psikososisal,http://dedeol.blogspot.com/2013/10/makalah-konsep-dasar-psikososial.html
Http://www.dokteryudabedah.com/infus-cairan-intravena-macam-macam-cairan-infus/
Slone ethel.2003. Anatomi
dan fisiologi untuk pemula . Jakarta :EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar