Sabtu, 11 Maret 2017

kebutuhan cairan elektrolik



A.    Kebutuhan Cairan Elektrolit
1.      Gangguan Keseimbangan Asam Basa
a.      Asidosis Respiratorik
1.)     Pengertian
Asidosis Respiratorik adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh karena kegagalan sistem pernapasan dalam membuang karbondioksida dari cairan tubuh. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya kerusakan pada pernapasan dan penurunan pada pH yakni kurang dari 7,35. Keadaan ini dapat disebabkan oleh adanya penyakit obstruksi, trauma kepala, perdarahan, dll. Asidosis respiratorik dapat bersifat akut atau kronik.
2.)    Penyebab
            Kondisi klinis yang dapat menyebabkan retensi karbon dioksida dalam darah meliputi pneumonia, emfisema, obstruksi kronis saluran pernapasan, stroke, atau trauma. Obat-obatan tertentu atau penyalahgunaan obat akan menekan frekuensi pernapasan dan mengakibatkan asidosis respiratorik.
3.)    Gejala
Gejala pertama berupa sakit kepala dan rasa mengantuk. Jika keadaannya memburuk, rasa mengantuk akan berlanjut menjadi stupor (penurunan kesadaran) dan koma. Stupor dan koma dapat terjadi dalam beberapa saat jika pernafasan terhenti atau jika pernafasan sangat terganggu, atau setelah berjam-jam jika pernafasan tidak terlalu terganggu. Ginjal berusaha untuk mengkompensasi asidosis dengan menahan bikarbonat, namun proses ini memerlukan waktu beberapa jam bahkan beberapa hari.
4.)    Diagnosa
Biasanya diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan pH darah dan pengukuran karbondioksida dari darah arteri.
5.)    Pengobatan
Pengobatan asidosis respiratorik bertujuan untuk meningkatkan fungsi dari paru-paru. Obat-obatan untuk memperbaiki pernafasan bisa diberikan kepada penderita penyakit paru-paru seperti asma dan emfisema.Pada penderita yang mengalami gangguan pernafasan yang berat, mungkin perlu diberikan pernafasan buatan dengan bantuan ventilator mekanik.
b.      Asidosis Metabolik
1)      Pengertian
            Suatu keadaan kehilangan basa atau terjadi penumpukan asam. Keadaan ini ditandai dengan adanya penurunan pH kurang dari 7,35 dan HCO3 kurang dari 22 mEq/L. 

2)      Penyebab
                               paling umum penyebab asidosis metabolik terjadi akibat ketoasidosis karena diabetes melitus atau kelaparan, akumulasi asam laktat akibat peningkatan aktivitas otot rangka seperti konvulsi, atau penyakit ginjal. Diare berat dan berkepanjangan disertai hilangnya bikarbonat dapat menyebabkan asidosis.
3)      Gejala
Asidosis metabolik ringan bisa tidak menimbulkan gejala, namun biasanya penderita merasakan mual, muntah dan kelelahan. Pernafasan menjadi lebih dalam atau sedikit lebih cepat, namun kebanyakan penderita tidak memperhatikan hal ini.
Sejalan dengan memburuknya asidosis, penderita mulai merasakan kelelahan yang luar biasa, rasa mengantuk, semakin mual dan mengalami kebingungan. Bila asidosis semakin memburuk, tekanan darah dapat turun, menyebabkan syok, koma dan kematian.
4)      Diagnosa
Diagnosis asidosis biasanya ditegakkan berdasarkan hasil pengukuran pH darah yang diambil dari darah arteri (arteri radialis di pergelangan tangan). Darah arteri digunakan sebagai contoh karena darah vena tidak akurat untuk mengukur pH darah.
Untuk mengetahui penyebabnya, dilakukan pengukuran kadar karbon dioksida dan bikarbonat dalam darah. Mungkin diperlukan pemeriksaan tambahan untuk membantu menentukan penyebabnya. Misalnya kadar gula darah yang tinggi dan adanya keton dalam urin biasanya menunjukkan suatu diabetes yang tak terkendali. Adanya bahan toksik dalam darah menunjukkan bahwa asidosis metabolik yang terjadi disebabkan oleh keracunan atau overdosis. Kadang-kadang dilakukan pemeriksaan air kemih secara mikroskopis dan pengukuran pH air kemih.
5)      Pengobatan
Pengobatan asidosis metabolik tergantung kepada penyebabnya. Sebagai contoh, diabetes dikendalikan dengan insulin atau keracunan diatasi dengan membuang bahan racun tersebut dari dalam darah. Kadang-kadang perlu dilakukan dialisa untuk mengobati overdosis atau keracunan yang berat.
Asidosis metabolik juga bisa diobati secara langsung. Bila terjadi asidosis ringan, yang diperlukan hanya cairan intravena dan pengobatan terhadap penyebabnya. Bila terjadi asidosis berat, diberikan bikarbonat mungkin secara intravena, tetapi bikarbonat hanya memberikan kesembuhan sementara dan dapat membahayakan.

c.       Alkalosis Respiratorik
1)      Pengertian
            Suatu keadaan kehilangan CO2 dari paru-paru yang dapat menimbulkan terjadinya paCO2 arteri kurang dari 35 mmHg, pH lebih dari 7,45. Keadaan ini dapat disebabkan oleh karena adanya hiperventilasi, kecemasan, emboli paru-paru, dan lain-lain.
2)      Penyebab
            Hiperventilasi dapat disebabkan oleh kecemasan, akibat demam, akibat pengaruh overdosis aspirin pada pusat pernapasan, akibat hipoksia karena tekanan udara yang rendah didataran yang tinggi, atau akibat anemia berat.
3)      Gejala
Alkalosis respiratorik dapat membuat penderita merasa cemas dan dapat menyebabkan rasa gatal disekitar bibir dan wajah. Jika keadaannya makin memburuk, bisa terjadi kejang otot dan penurunan kesadaran.
4)      Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pengukuran kadar karbondioksida dalam darah arteri pH darah juga sering meningkat.
5)      Pengobatan
Biasanya satu-satunya pengobatan yang dibutuhkan adalah memperlambat pernafasan. Jika penyebabnya adalah kecemasan, memperlambat pernafasan bisa meredakan penyakit ini. Jika penyebabnya adalah rasa nyeri, diberikan obat pereda nyeri.
Menghembuskan nafas dalam kantung kertas (bukan kantung plastik) bisa membantu meningkatkan kadar karbondioksida setelah penderita menghirup kembali karbondioksida yang dihembuskannya.
Pilihan lainnya adalah mengajarkan penderita untuk menahan nafasnya selama mungkin, kemudian menarik nafas dangkal dan menahan kembali nafasnya selama mungkin. Hal ini dilakukan berulang dalam satu rangkaian sebanyak 6-10 kali. Jika kadar karbondioksida meningkat, gejala hiperventilasi akan membaik, sehingga mengurangi kecemasan penderita dan menghentikan serangan alkalosis respiratorik.
d.      Alkalosis Metabolic
1)      Pengertian
Alkalosis Metabolik adalah suatu keadaan kehilangan ion hidrogen atau penambahan basa pada cairan tubuh dengan adanya peningkatan bikarbonat plasma lebih dari 26 mEq/L dan pH arteri lebih dari 7,45, atau secara umum keadaan asam basa dapat dilihat sebagaimana tabel berikut :
HCO3 Plasma
pH Plasma
PaCO2 Plasma
Gangguan Asam Basa
Meningkat
Menurun
Meningkat
Asidosis Respiratorik
Menurun
Menurun
Menurun
Asidosis Metabolik
Menurun
Meningkat
Menurun
Alkalosis Respiratorik
Meningkat
Meningkat
Meningkat
Alkalosis Metabolik
2)      Penyebab
            Penyebab alkalosis metabolik yaitu muntah yang berkepanjangan (pengeluaran asam klorida lambung). Disfungsi ginjal, pengobatan dengan diurektikyang mengakibatkan hipokalemia dan penipisan volume CES, atau pemakaian antasid berlebihan dapat menyebabkan alkalosis metabolik. 
3)      Gejala
Alkalosis metabolik dapat menyebabkan iritabilitas (mudah tersinggung), otot berkedut dan kejang otot; atau tanpa gejala sama sekali. Bila terjadi alkalosis yang berat, dapat terjadi kontraksi (pengerutan) dan spasme (kejang) otot yang berkepanjangan (tetani).
4)      Diagnosa.
Dilakukan pemeriksaan darah arteri untuk menunjukkan darah dalam keadaan basa.
5)      Pengobatan.
Biasanya alkalosis metabolik diatasi dengan pemberian cairan dan elektrolit (natrium dan kalium) . Pada kasus yang berat, diberikan amonium klorida secara intravena.

PENGATURAN ELEKTROLIT
1.      Pengaturan keseimbangan natrium
Natrium merupakan kation dalam tubuh yang berfungsi dalam pengaturan osmolaritas dan volume cairan tubuh. Natrium ini paling banyak pada cairan ekstrasel. Pengaturan konsentrasi cairan ekstrasel diatur oleh ADH dan aldosteron. ADH mengatur sejumlah air yang diserap kembali kedalam ginjal dari tubulus renalis. Sedangkan aldosteron dihasilkan oleh korteks suprarenal yang berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan konsentrasi natrium dalam plasma dan prosesnya dibantu oleh ADH. Aldosteron juga mengatur keseimbangan jumlah natrium yang diserap kembali oleh darah. Natrium tidak hanya bergerak kedalam atau keluar tubuh, tetapi juga mengatur keseimbangan cairan tubuh. Ekskresi natrium dapat dilakukan melalui ginjal dan sebagian kecil melalui tinja, keringat, dan air mata.
2.      Pengaturan keseimbangan kalium
Kalium merupakan kation utama yang terdapat dalam cairan intrasel dan berfungsi mengatur keseimbangan elektrolit. Keseimbangan kalium diatur oleh ginjal dengan mekanisme perubahan ion natrium dalam tubulus ginjal dan sekresi aldosteron. Aldosteron juga berfungsi mengatur keseimbangan kadar kalium dalam plasma (cairan ekstrasel). Sistem pengaturannya melalui tiga langkah, yaitu :
a.       Peningkatan konsentrasi kalium dalam cairan ekstrasel yang menyebabkan peningkatan produksi aldosteron.
b.      Peningkatan jumlah aldosteron akan memengaruhi jumlah kalium yang dikeluarkan melalui ginjal.
c.       Peningkatan pengeluaran kalium; konsentrasi kalium dalam cairan ekstra sel menurun.
Kalium berpengaruh terhadap fungsi sistem pernapasan. Partikel penting dalam kalium ini berfungsi untuk menghantarkan impuls listrik ke jantung, otot lain, jaringan paru-paru, dan jaringan usus pencernaan. Ekskresi kalium dilakukan melalui urine, dan sebagian lagi melalui tinja dan keringat.
3.      Pengaturan keseimbangan kalsium
Kalsium dalam tubuh berfungsi dalam pembentukan tulang, penghantar impuls kontraksi otot, koagulasi darah (pembekuan darah), dan membantu beberapa enzim pankreas. Konsentrasi kalsium dalam tubuh diatur langsung oleh hormon paratiroid melalui proses reabsorpsi tulang. Jika kadar kalsium darah menurun, kelenjar paratiroid akan merangsang pembentukan hormon paratiroid yang langsung meningkatkan jumlah kalsium dalam darah. Kalsium diekskresi melalui urine dan keringat.
4.      Pengaturan keseimbangan magnesium
Magnesium merupakan kation dalam tubuh yang terpenting kedua dalam cairan intrasel. Keseimbangannya diatur oleh kelenjar paratiroid. Magnesium diabsorpsi dari saluran pencernaan. Magnesium dalam tubuh dipengaruhi oleh konsentrasi kalsium. Hipomagnesemia terjadi bila konsentrasi serum turun kurang dari 1,5 mEq/L. Sedangkan hipermagnesemia terjadi bila kadar magnesiumnya lebih dari 2,5 mEq/L.

5.      Pengaturan keseimbangan klorida
Klorida merupakan anion utama dalam cairan ekstrasel, tetapi klorida dapat ditemukan pada cairan ekstrasel dan intrasel. Fungsi klorida biasanya bersatu dengan natrium yaitu mempertahankan keseimbangan tekanan osmotik dalam darah. Hipokloremia merupakan suatu keadaan kekurangan kadar klorida dalam darah. Sedangkan hiperkloremia merupakan kelebihan kadar klorida dalam darah. Kadar klorida yang normal dalam darah orang dewasa adalah 95-108 mEq/L.
6.       Pengaturan keseimabangan bikarbonat
Bikarbonat merupakan elektrolit utama dalam larutan buffer (penyangga) dalam tubuh.
7.      Pengaturan keseimbangan fosfat (PO4)
Fosfat bersama-sama dengan kalsium berfungsi dalam pembentukan gigi dan tulang. Fosfat diserap dari saluran pencernaan dan dikeluarkan melalui urine.
JENIS CAIRAN ELEKTROLIT
Cairan elektrolit adalah cairan saline atau cairan yang memiliki sifat bertegangan tetap. Cairan saline terdiri atas cairan isotonik, hipotonik, dan hipertonik. Konsentrasi isotonik disebut juga normal saline yang banyak dipergunakan. Contohnya :
1.      Cairan Ringer’s terdiri atas : Na+, K+, Cl-, dan Ca2+.
2.      Cairan Ringer’s Laktat, terdiri atas : Na+, K+, Mg2+, Cl-, dan HCO3-.
3.      Cairan Buffer’s, terdiri atas : Na+, K+, Mg2+, Cl-, dan HCO3-.

GANGGUAN/MASALAH KEBUTUHAN ELEKTROLIT
1.      Hiponatremia
Hiponatremia merupakan suatu keadaan kekurangan kadar natrium dalam plasma darah yang ditandai dengan adanya kadar natrium plasma yang kurang dari 135 mEq/L, mual, muntah, dan diare. Hal tersebut menimbulkan rasa haus yang berlebihan, denyut nadi cepat, hipotensi, konvulsi, dan membran mukosa kering. Sesuai dengan penjelasan sebelumnya, maka hiponatremia ini dapat disebabkan oleh kekurangan cairan yang berlebihan seperti kondisi diare yang berkepanjangan.
2.      Hipernatremia
Hipernatremia merupakan suatu keadaan dimana kadar natrium dalam plasma tinggi yang ditandai dengan adanya mukosa kering, oliguria/anuria, turgor kulit buruk dan permukaan kulit membengkak, kulit kemerahan, lidah kering dan kemerahan, konvulsi, suhu badan naik, serta kadar natrium dalam plasma lebih dari 145 mEq/L. Kondisi demikian dapat disebabkan oleh dehidrasi, diare, dan asupan air yang berlebihan sedangkan asupan garamnya sedikit.
3.      Hipokalemia
Hipokalemia suatu keadaan kekurangan kadar kalium dalam darah. Hipokalemia ini dapat terjadi dengan sangat cepat. Sering terjadi pada pasien yang mengalami diare berkepanjangan. Kondisi hipokalemia ditandai dengan lemahnya denyut nadi, turunnya tekanan darah, tidak nafsu makan dan muntah-muntah, perutnya kembung, lemah dan lunaknya otot, denyut jantungnya tidak beraturan (aritmia), penurunan bising usus, serta kadar kalium plasmanya menurun hingga kurang dari 3,5 mEq/L.
4.      Hiperkalemia
Hiperkalemia merupakan suatu keadaan dimana kadar kalium dalam darah tinggi. Keadaan ini sering terjadi pada pasien luka bakar, penyakit ginjal, asidosis metabolik, pemberian kalium yang berlebihan melalui intravena. Hiperkalemia ditandai dengan adanya mual, hiperaktivitas sistem pencernaan, aritmia, kelemahan, jumlah urine sedikit sekali, diare, adanya kecemasan dan iritabilitas (peka rangsang), serta kadar kalium dalam plasma mencapai lebih dari 5 mEq/L.
5.      Hipokalsemia
Hipokalsemia merupakan kekurangan kadar kalsium dalam plasma darah. Hipokalsemia ditandai dengan adanya kram otot dan kram perut, kejang, bingung, kadar kalsium dalam plasma kurang dari 4,3 mEq/L, serta kesemutan pada jari dan sekitar mulut. Keadaan ini dapat disebabkan oleh pengaruh pengangkatan kelenjar gondok atau kehilangan sejumlah kalsium karena sekresi intestinal.
6.       Hiperkalsemia
Hiperkalsemia merupakan suatu keadaan kelebihan kadar kalsium dalam darah. Hal ini terjadi pada pasien yang mengalami pengangkatan kelenjar gondok dan makan vitamin D secara berlebihan. Hiperkalsemia dengan adanya nyeri pada tulang, relaksasi otot, batu ginjal, mual-mual, koma, dan kadar kalsium dalam plasma lebih dari 4,3 mEq/L.
7.      Hipomagnesia
Hipomagnesia merupakan kekurangan kadar magnesium dalam darah. Hipomagnesia ditandai dengan adanya iritabilitas, tremor, kram pada kaki dan tangan, takikardi, hipertensi, disorientasi dan konvulsi, serta kadar magnesium dalam darah kurang dari 1,3 mEq/L.
8.      Hipermagnesia
Hipermagnesia merupakan kondisi kelebihan kadar magnesium dalam darah. Hal ini ditandai dengan adanya koma, gangguan pernapasan, dan kadar magnesium lebih dari 2,5 mEq/L.

I.         TINDAKAN UNTUK MENGATASI MASALAH/GANGGUAN DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT.
1.    Pemberian cairan melalui infus
Pemberian cairan melalui infus merupakan tindakan memasukkan cairan melalui intravena yang dilakukan pada pasien dengan bantuan perangkat infus. Tindakan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit serta sebagai tindakan pengobatan dan pemberian makanan
Persiapan alat dan bahan :
a.       Standar infus
b.      Perangkat infus
c.       Cairan sesuai dengan kebutuhan pasien
d.      Jarum infus /abocath atau sejenisnya sesuai dengan ukuran
e.       Pengalas
f.       Tourniquet / pembendung
g.      Kapas alkohol 70%
h.      Plester
i.        Gunting
j.        Kasa steril
k.      Betadine TM
l.        Sarung tangan

Prosedur kerja :
a.         Cuci tangan
b.         Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
c.         Hubungkan cairan dan perangkat infus dengan menusukkan kedalam botol infus (cairan)
d.        Isi cairan kedalam perangkat infus dengan menekan bagian ruang tetesan hingga ruangan tetesan terisi sebagian,kemudian buka penutup hingga selang terisi dan keluar udaranya
e.         Letakkan pengalas
f.          Lakukan pembendungan dengan tourniquet
g.         Gunakan sarung tangan
h.         Desinfeksi daerah yang akan ditusuk
i.           Lakukan penusukan dengan arah jarum keatas
j.           Cek apakah sudah mengenai vena dengan ciri darah keluar melalui jarum infus/abocath
k.         Tarik jarum infus dan hubungkan dengan selang infus
l.           Buka tetesan
m.       Lakukan desinfeksi dengan BetadineTM dan tutup dengan kasa steril
n.         Beri tanggal dan jam pelaksanaan infus pada plester
o.         Catat respons yang terjadi
p.         Cuci tangan.


CARA MENGHITUNG TETESAN INFUS :
a.    Dewasa : (Makro dengan 20 tetes/ ml)

Tetesan / Menit =
Jumlah cairan yang masuk
Lamanya infus (jam) x 3

Atau
Tetesan / Menit :
∑ Keb. Cairan x Faktor tetesan
Lama infus (jam) x 60 menit

Keterangan :
Faktor tetesan infus bermacam-macam,hal ini dapat dilihat pada label infus (10 tetes/menit, 15 tetes/menit, dan 20 tetes/menit).
Contoh :
Seorang pasien dewasa diperlukan rehidrasi dengan 1000 ml (2 botol) dalam 1 jam maka tetesan per menit adalah :
Tetesan / Menit =
1000 ml
= 333/menit
1 x 3

Atau
Tetesan / Menit :
1000 ml x 20
= 333 / menit
1 x 60 menit
                  




b.    Anak
Tetesan/Menit(mikro) =
Jumlah cairan yang masuk
Lamanya infus (jam)

Contoh :
Seorang pasien neonatus diperlukan rehidrasi dengan 250 µl dalam 2 jam ,maka tetesan permenit adalah :
Tetesan/Menit (mikro)=
250
= 125 tetes/menit
2

Jenis Cairan Infus:

1.    Cairan hipotonik:
Osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan “ditarik” dari dalam pembuluh darah keluar kejaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel “mengalami” dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan asidosis diabetik. Komplikasi yang  membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah kesel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) padabeberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.

2.      Cairan Isotonik:
osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami  hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan /cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).
3.    Cairan hipertonik:
Osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga “menarik” cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel kedalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak). Penggunaan banyak ontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah), dan albumin.
Pembagian
cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya:
·      Kristaloid:
Bersifat isotonik, maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan (volume expanders) kedalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat, dan berguna pada pasien yang memerlukan cairan segera. Misalnya Ringer-Laktat dan garam fisiologis.
·      Koloid:
Ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan keluar dari membran ekapiler, dan tetap berada dalam pembuluh darah, maka sifatnya hipertonik, dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah. Contohnya adalah albumin dan steroid.


JENIS-JENIS
CAIRAN INFUS

·      ASERING
Indikasi:
Dehidrasi (syok
hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut, demamberdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma.
Komposisi:
Setiap liter asering
mengandung:
·       Na 130 mEq
·       K 4 mEq
·       Cl 109 mEq
·       Ca 3 mEq
·       Asetat (garam) 28 mEq
Keunggulan:
1.    Asetat dimetabolisme di otot, dan masih dapat ditolelir pada pasien yang mengalami gangguan hati
2.    Pada pemberian sebelum operasi sesar, RA mengatasi asidosis laktat lebih baik dibanding RL pada neonatus
3.    Pada kasus bedah, asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi dengan iso fluran
4.    Mempunyai efek vasodilator
5.    Pada kasus stroke akut, penambahan MgSO4 20 %  sebanyak 10 ml pada 1000 ml RA, dapat meningkat kantonisitas larutan infuse sehingga memperkecil risiko memperburuk edema serebral
·      KA-EN1B
Indikasi:
1.    Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui, misal pada kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai, demam)
2.    < 24 jam pasca operasi
3.    Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali  pemberian secara IV. Kecepatan sebaiknya 300-500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak
4.    Bayi premature atau bayi baru lahir, sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam
·      KA-EN 3A & KA-EN 3B
Indikasi:
1.    Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas
2.    Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)
3.    Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A
4.    Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B
·         KA-EN MG3
Indikasi :
1.    Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian  air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas
2.    Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)
3.    Mensuplai kalium 20 mEq/L
4.    Rumatanuntukkasusdimanasuplemen NPC dibutuhkan 400 kcal/L
·      KA-EN 4A
Indikasi :
1.    Merupakan larutan infuse rumatan untuk bayi dan anak
2.    Tanpa kandungan kalium, sehingga dapat diberikan pada pasien dengan berbagai kadar konsentrasi kalium serum normal
3.    Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik
Komposisi (per 1000 ml):
·       Na 30 mEq/L
·       K 0 mEq/L
·       Cl 20 mEq/L
·       Laktat 10 mEq/L
·       Glukosa 40 gr/L

·       KA-EN 4B
Indikasi:
1.    Merupakan larutan infuse rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun
2.    Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko hipokalemia
3.    Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik
Komposisi:
o   Na 30 mEq/L
o   K 8 mEq/L
o   Cl 28 mEq/L
o   Laktat 10 mEq/L
o   Glukosa 37,5 gr/L
·      Otsu-NS
Indikasi:
1.    Untuk resusitasi
2.    Kehilangan Na > Cl, missaldiare
3.    Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis diabetikum, insufi siensi adreno kortikal, luka bakar)
·      Otsu-RL
Indikasi:
1.    Resusitasi
2.    Suplai ion bikarbonat
3.    Asidosis metabolik
·         MARTOS-10
Indikasi:
1.    Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik
2.    Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen seperti tumor, infeksiberat, stress berat dan defisiensi protein
3.    Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam
4.    Mengandung 400 kcal/L
·      AMIPAREN
Indikasi:
1.    Stres metabolic berat
2.    Luka bakar
3.    Infeksi berat
4.    Kwasiokor
5.    Pasca operasi
6.    Total Parenteral Nutrition
7.    Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit
·      AMINOVEL-600
Indikasi:
1.    Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI
2.    Penderita GI yang dipuasakan
3.    Kebutuhan metabolik  yang  meningkat (missal luka bakar, trauma dan pasca operasi)
4.    Stres metabolik sedang
5.    Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm)
·      PAN-AMIN G
Indikasi:
1.    Suplai asam amino pada hiponatremia dan stress metabolic ringan
2.    Nitrisi dini pasca operasi
3.    Tifoid
Konsep Diri Dan Harga Diri
è Konsep Diri
Pendahuluan :
§  KD adalah Semua perasaan, kepercayaan dan nilai yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain.
§  Berkembang secara bertahap,  saat bayi mulai mengenal dan membedakan diri dengan orang lain.
§  Pembentukan KD dipengaruhi asuhan orang tua dan lingkungan.
§  Tercapai aktualisasi diri ( Hirarkhi maslow) → Perlu KD yang sehat.

Komponen KD :
      1.            Body Image ( Citra tubuh)
·         Sikap terhadap tubuh secara sadar dan tidak sadar
·         Mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, dan fungsi penampilantubuh dulu dan sekarang
      2.            Ideal diri
·         Persepsi individu → bagaimana harus berprilaku sesuai standar prilaku.
·         Akan mewujudkan cita-cita dan harapan pribadi.
      3.            Harga diri (HD)
·         Penilaian terhadap hasil yang dicapai dengan analisis → sejauh mana prilaku memenuhi ideal diri.
·         Sukses → HD tinggi, gagal → HD rendah
·         HD diperolah dari diri sendiri dan orang lain.
      4.            Peran diri (PD).
·         Pola sikap, prilaku nilai yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat.
      5.            Identitas Diri
·         Kesadaran akan dirinya sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesis dari semua aspek dari KD sebagai suatu kesatuan yang utuh.

Faktor yang mempengaruhi KD :
1.      Tingkat perkembangan dan kematangan (Dukungan mental, perlakuan dan pertumbuhan anak)
2.      Budaya (Usia anak → nilai diadopsi dari orang tua)
3.      Sumber eksternal dan internal
Eksternal → Dukungan masyarakat, ekonomi yang bagus.
Internal → humoris, agamis, berpendidikan
4.      Pengalaman sukses dan gagal → meningkatkan/menurunkan KD.
5.      Stresor
Stresor (perkawinan, pekerjaan baru, ujian, ketakutan, PHK, dll), jika koping tidak efektif → depresi, menarik diri dan kecemasan.
6.      Usia, keadaan sakit dan trauma → mempengaruhi persepsi diri
Kriteria Kepribadian sehat :
a.       Citra tubuh yang positif dan kuat
b.      ideal dan realitas
c.       Konsep diri yang positif
d.      Harga diri yang tinggi
e.       Kepuasan penampilan peran
f.       Identitas jelas.
Ciri konsep diri rendah (carpenito, 1995)
a.       Menghindari sentuhan atau melihat bagian tubuh tertentu.
b.      Tidak mau berkaca
c.       Menghindari diskusi tentan topic dirinya.
d.      Menolak usaha rehabilitasi.
e.       Melakukan usaha sendiri dengan tidak tepat
f.       Menginglari perubahan pada dirinya.
g.      Peningkatan ketergantungan pada orang lain.
h.      Adanya tanda keresahan seperti marah, putus asa, menangis.
i.        Menolak berpartisipasi dalam perawatan diri.
j.        Tingkah laku merusak, seperti penggunaan narkoba.
k.      Menghindari kontak social.
l.        Kurang percaya diri

Faktor risiko gangguan konsep diri
1Gangguan identitas diri
§  Perubahan perkembangan.
§  Trauma
§  Jenis kelamin yang tidak sesuai
§  Budaya yang tidak sesuai
2. Gangguan citra tubuh (body image)
§  Hilangnya bagian tubuh
§  Perubahan perkembangan
§  Kecacatan
3. Gangguan harga diri
§  Hubungan interpersonal yang tidak harmonis
§  Kegagalan perkembangan
§  Kegagalan mencapai tujuan hidup
§  Kegagalan dalam mengikuti aturan normal
4. Gangguan peran
§  Kehilangan peran
§  Peran ganda
§  Konflik peran
§  Ketidakmampuan menampilkan peran


Harga diri
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisis seberapa banyak kesesuaian tingkah laku dengan ideal dirinya. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain yaitu dicintai, dihormati dan dihargai. Individu akan merasa harga dirinya tinggi bila sering mengalami keberhasilan, sebaliknya individu akan merasa harga dirinya rendah bila sering mengalami kegagalan, tidak dicintai atau diterima lingkungan. Pada masa dewasa akhir timbul masalah harga diri karena adanya tantangan baru sehubungan dengan pensiun, ketidakmampuan fisik, brepisah dari anak, kehilangan pasangan dan sebagainya (Suliswati, dkk, 2005). Seseorang memiliki konsep diri yang baik berkaitan dengan harga diri apabila mampu menunjukkan keberadaannya dibutuhkan oleh banyak orang, dan menjadi bagian yang dihormati oleh lingkungan sekitar.
Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Manusia cenderung bersikap negatif, walaupun ia cinta dan mengenali kemampuan orang lain namun ia jarang mengekspresikannya. Harga diri akan rendah jika kehilangan kasih sayang dan penghargaan dari orang lain serta mengalami ketidakmampuan pada dirinya dan juga sebaliknya (Perry & Potter, 2005).
Faktor predisposisi gangguan harga diri meliputi penolakan dari orang lain, kurang penghargaan, pola asuh yang salah, terlalu dilarang, terlalu dikontrol, terlalu dituruti, terlalu dituntut dan tidak konsisten, persaingan antar saudara, kesalahan dan kegagalan yang berulang, dan tidak mampu mencapai standar yang ditentukan (Suliswati, dkk, 2005).

PRINSIP PEMENUHAN KEBUTUHAN PSIKOSOSIAL DAN RASA NYAMAN (BEBAS NYERI)
Kebutuhan Sosial
Hak-Hak Pasien
Hak pasien merupakan bagian dari hak manusia, mengingat hak merupakan tuntutan secara rasional dalam situasi tertentu. Setiap manusia mempunyai hak untuk dihargai sebagai manusia. Beberapa hak pasien dalam pelayanan kesehatan, adalah sebagai berikut :
a.       Hak mendapatkan pelayanan kesehatan yang adil,memadai dan berkualitas.
b.      Hak untuk diberikan informasi
c.       Hak untuk dilibatkan dalam pembuatan keputusan tentang pengobatan dan perawatan
d.      Hak untuk diberikan informed consent
e.       Hak untuk menolak suatu consent
f.       Hak untuk mengetahui nama dan status tenaga kesehatan yang menolong
g.      Hak untuk mempunyai pendapat
h.      Hak untuk diperlakukan secara hormat
i.        Hak untuk konfidentialitas memperoleh kerahasiaan termasuk privasi
j.        Hak untuk memilih integritas tubuh
k.      Hak untuk kompensasi terhadap cedera yang tidak legal
l.        Hak untuk mempertahankan kemuliaan (dignitas)
Sumber (prihardjo 1995)
KEBUTUHAN RASA NYAMAN (BEBAS NYERI)
PENGERTIAN NYERI
Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan yang tidak menyenangkan. Sifatnya sangat subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya. Berikut ini merupakan pendapat beberapa ahli mengenai pengertian nyeri :
      1.            Mc. Coffery (1979), mendefinisikan nyeri sebagai suatu keadaan yang memengaruhi seseorang, yang keberadaan nyeri dapat diketahui hanya jika orang tersebut pernah mengalaminya.
      2.            Wolf weifsel feurst (1974), mengatakan nyeri merupakan suatu perasaan menderita secara fisik dan mental atau perasaan yang bisa menimbulkan ketegangan.
      3.            Artur C. Curton (1983), mengatakan bahwa nyeri merupakan suatu mekanisme bagi tubuh, timbul ketika jaringan sedang dirusak sehingga individu tersebut bereaksi untuk menghilangkan rangsangan nyeri.
      4.            Secara umum, nyeri diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak menyenangkan akibat terjadinya rangsangan fisik maupun dari serabut saraf dalam tubuh ke otak dan diikuti oleh reaksi fisik, fisiologis, maupun emosional

FISIOLOGI NYERI
Munculnya nyeri sangat berkaitan erat dengan reseptor dan adanya rangsangan, reseptor nyeri yang dimaksud adalah nociceptor, merupakan ujung-ujung saraf sangat bebas yang memiliki sedikit mielin yang tersebar pada kulit dan mukosa, khususnya pada visera, persendian, dinding arteri, hati, dan kantong empedu. Reseptor nyeri dapat memberikan respons akibat adanya stimulasi atau rangsangan. Stimulasi tersebut dapat berupa kimiawi, termal, listrik, atau mekanis. Stimulasi oleh zat kimiawi diantaranya seperti histamin, bradikinin, prostaglandin, dan macam-macam asam seperti adanya asam lambung yang meningkat pada gastritis atau stimulasi yang dilepas apabila terdapat kerusakan pada jaringan.
            Selanjutnya, stimulasi yang diterima oleh reseptor tersebut ditransmisikan berupa impuls-impuls nyeri ke sumsum tulang belakang oleh dua jenis serabut, yaitu serabut A (delta) yang bermielin rapat dan serabut lamban (serabut C). Impuls-impuls yang ditransmisikan oleh serabut delta A mempunyai sifat inhibitor yang ditransmisikan ke serabut C. Serabut-serabut aferen masuk ke spinal melalui akar dorsal (dorsal root) serta sinaps pada dorsal horn. Dorsal horn tersebut terdiri atas beberapa lapisan atau lamina yang saling bertautan. Diantara lapisan dua dan tiga membentuk substantia gelatinosa yang merupakan saluran utama impuls. Kemudian, impuls nyeri menyeberangi sumsum tulang belakang pada interneuron dan bersambung ke jalur spinal asendens yang paling utama, yaitu jalur spinothalamic tract (STT) atau jalur spinothalamus dan spinorecticular tract (SRT) yang membawa informasi mengenai sifat dan lokasi nyeri. Dari proses transmisi terdapat dua jalur mekanisme terjadinya nyeri, yaitu jalur opiate dan jalur nonopiate. Jalur opiate dari talamus, yang melalui otak tengah dan medula, ke tanduk dorsal sumsum tulang belakang yang berkonduksi dengan nociceptor impuls supresif. Serotonin merupakan neurotransmiter dalam impuls supresif. Sistem supresif lebih mengaktifkan stimulasi nociceptor yang ditransmisikan oleh serabut A. Jalur nonopiate merupakan jalur desenden yang tidak memberikan respons terhadap naloxone yang kurang banyak diketahui mekanismenya (Long 1989).
KLASIFIKASI NYERI  
Klaisfikasi nyeri secara umum dibagi menjadi dua, yakni nyeri akut dan kronis. Nyeri akut merupakan nyeri yang timbul secara mendadak dan cepat menghilang, tidak melebihi enam bulan, serta ditandai dengan adanya peningkatan tegangan otot. Nyeri kronis merupakan nyeri yang timbul secara perlahan-lahan, biasanya berlangsung dalam waktu cukup lama, yaitu lebih dari enam bulan. Yang termasuk dalam kategori nyeri kronis adalah nyeri terminal, sindrom nyeri kronis, dan nyeri psikosomatis.
Terdapat jenis nyeri yang spesifik, diantaranya nyeri somatis, nyeri viseral, nyeri menjalar (referent pain), nyeri psikogenik, nyeri phantom dari ekstremitas, nyeri neurologis, dll. Umumnya, nyeri somatis dan nyeri viseral ini bersumber dari kulit jaringan dibawah kulit (superfisial), yaitu pada otot dan tulang.
Nyeri menjalar adalah nyeri yang terasa pada bagian tubuh yang lain, umumnya terjadi akibat kerusakan pada cedera organ viseral. Nyeri psikogenik adalah nyeri yang tidak diketahui secara fisik, biasanya timbul akibat psikologis. Nyeri phantom adalah nyeri yang disebabkan karena salah satu ekstremitas diamputasi. Nyeri neurologis adalah bentuk nyeri yang tajam karena adanya spasme disepanjang atau dibeberapa jalur saraf.
STIMULUS NYERI
Seseorang dapat menoleransi, menahan nyeri (pain tolerance), atau dapat mengenali jumlah stimulusi nyeri sebelum merasakan nyeri (pain threshold). Terdapat beberapa jenis stimulus nyeri, diantaranya :
      1.            Trauma pada jaringan tubuh. Misalnya karena bedah, akibat terjadinya kerusakan jaringan dan iritasi secara langsung pada reseptor.
      2.            Gangguan pada jaringan tubuh. Misalnya karena edema, akibat terjadinya penekanan pada reseptor nyeri.
      3.            Tumor, dapat juga menekan reseptor nyeri.
      4.            Iskemia pada jaringan. Misalnya terjadi blokade pada arteria koronaria yang menstimulasi reseptor nyeri akibat tertumpuknya asam laktat.
      5.            Spasme otot, dapat menstimulasi mekanik.



Faktor yang memengaruhi nyeri
      1.            Arti nyeri
Arti nyeri bagi individu memiliki banyak perbedaan dan hampir sebagian arti nyeri tersebut merupakan arti yang negatif, seperti membahayakan, merusak, dan lain-lain. Keadaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia, jenis kelamin, latar belakang sosial kultural, lingkungan dan pengalaman.
      2.            Persepsi nyeri
Persepsi nyeri merupakan penilaian sangat subjektif, tempatnya pada korteks (pada fungsi evaluatif secara kognitif). Persepsi ini dipengaruhi oleh faktor yang dapat memicu stimulasi nociceptor.
      3.            Toleransi nyeri
Toleransi ini erat hubungannya dengan adanya intensitas nyeri yang dapat memengaruhi seseorang menahan nyeri. Faktor yang dapat memengaruhi peningkatan toleransi nyeri antara lain alkohol, obat-obatan, hipnotis, gesekan dan garukan, pengalihan perhatian, kepercayaan yang kuat, dll. Sedangkan faktor yang menurunkan toleransi antara lain kelelahan, rasa marah, bosan, cemas, nyeri yang tidak kunjung hilang, sakit, dan lain-lain.
      4.            Reaksi terhadap nyeri
Reaksi terhadap nyeri merupakan bentuk respons seseorang terhadap nyeri, seperti ketakutan, gelisah, cemas, menangis, dan menjerit. Semua ini merupakan bentuk respons nyeri yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti: arti nyeri, tingkat persepsi nyeri, pengalam masa lalu, nilai budaya, harapan sosial, kesehatan fisik dan mental, takut, cemas, usia, dan lain-lain.
Hubungan sosial
Hubungan sosial dapat dibedakan menjadi dua, yaitu proses yang asosiatif dan disosiatif. Hubungan sosial asosiatif merupakan hubungan yang bersifat positif, artinya hubungan ini dapat mempererat atau memperkuat jalinan atau solidaritas kelompok. Adapun hubungan sosial disosiatif merupakan hubungan yang bersifat negatif, artinya hubungan ini dapat merenggangkan atau menggoyahkan jalinan atau solidaritas kelompok yang telah terbangun.
Hubungan sosial asosiatif adalah proses interaksi yang cenderung menjalin kesatuan dan meningkatkan solidaritas anggota kelompok. Hubungan sosial asosiatif memiliki bentuk-bentuk berikut ini.
a. Kerja sama
b. Akomodasi; dapat diartikan sebagai suatu keadaan atau sebagai suatu proses. Sebagai keadaan, akomodasi adalah suatu bentuk keseimbangan dalam interaksi antarindividu atau kelompok manusia dalam kaitannya dengan norma sosial dan nilai sosial yang berlaku. n masalah yang terjadi dapat dilakukan.
c. Asimilasi; adalah proses sosial yang timbul apabila ada kelompok masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul secara interaktif dalam jangka waktu lama.
d. Akulturasi; adalah suatu keadaan diterimanya unsur-unsur budaya asing ke dalam kebudayaan sendiri.

 Bentuk-Bentuk Hubungan Disosiatif
a. Persaingan; adalah suatu proses sosial yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam usahanya mencapai keuntungan tertentu tanpa adanya ancaman atau kekerasan dari para pelaku.
b. Kontravensi; merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dengan pertentangan atau pertikaian. Kontravensi adalah sikap mental yang tersembunyi terhadap orang atau unsur-unsur budaya kelompok lain.
c. Pertentangan/Perselisihan; adalah suatu proses sosial di mana individu atau kelompok menantang pihak lawan dengan ancaman dan atau kekerasan untuk mencapai suatu tujuan.




DAFTAR PUSTAKA
Uliyah Musrifatul,2008, Keterampilan Dasar Praktek Klinik untuk Kebidanan, , Jakarta:Salemba Medika.
Adhe Febriana, 2013,  Makalah Konsep Dasar Psikososisal,http://dedeol.blogspot.com/2013/10/makalah-konsep-dasar-psikososial.html
Http://www.dokteryudabedah.com/infus-cairan-intravena-macam-macam-cairan-infus/
Slone ethel.2003. Anatomi dan fisiologi untuk pemula . Jakarta :EGC


Tidak ada komentar:

Posting Komentar