KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah kami ucapkan
kehadirat TUHAN YME karena rahmat dan karunia – Nya kami dapat menyusun Tugas
ini dalam bentuk makalah SISTEM KARDIOVASKULAR .
Dalam penulisan ini, kami sangat
menyadari bahwa masih banyak kekurangan. Oleh sebab itu, kami mohon pembaca
untuk memberikan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk membantu kami
dalam menyelesaikan tugas ini sehingga lebih sempurna di masa yang akan datang.
Dalam hal penulisan ini kami menyadari
akan adanya kekurangan dalam tugas ini di karenakan waktu,tenaga, pengetahuan
dan pengalaman yang sebasar-besarnya.
Semoga tugas yang kami buat ini
dapat bermanfaat di masa sekarang dan masa yang akan datang atas segala
perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Yogyakarta, 01 oktober 2016
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar.............................................................................................. 1
Daftar Isi......................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang................................................................................................. 3
2.
Rumusan Masalah.............................................................................................. 3
3.
Tujuan............................................................................................................ 3
4.
Metode............................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
1.
Anatomi sistem
kardiovaskuler................................................... 4
2.
Fisiologi sistem
kardiovaskuler................................................................... 4
3.
Biofisika sistem
kardiovaskuler 4
4.
Biokimia sistem
kardiovaskuler 4 c
BAB III PENUTUP
Kesimpulan....................................................................................................... 6
Saran
7
Daftar Pustaka............................................................................................... 7
Gambar 8
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sistem kardiovaskular merupakan sistem yang menjelaskan
proses sirkulasi yang terjadi di dalam tubuh manusia. Berdasarkan lintasan
sirkulasi,ada 3 macam sirkulasi dalam tubuh manusia,sirkulasi
sistemik,sirkulasi paru,dan sirkulasi khusus (sirkulasi pada janin,sirkulasi
koroner jantung). Sirkulasi tidak hanya menjelaskan tentang sirkulasi darah
saja tetapi juga ada sirkulasi cairan limfe yang berperan dalam sistem
kekebalan tubuh dan pengaturan keseimbangan cairan di ruang interstisial.
Sistem kardiovaskuler terdiri dari : jantung , pembuluh
darah (vena dan arteri), pembuluh limfe dan darah. Jantung merupakan salah satu
organ tubuh manusia yang sangat penting karena mempunyai fungsi sangat
penting untuk kelangsungan hidup manusia yaitu memompa darah ke jaringan,
menyuplai oksigen dan zat nutrisi lain sambil mengangkut karbondioksida dan
sampah hasil metabolisme.
Jantung berfungsi memompa darah untuk menyediakan
oksigen,nutrien dan hormone ke seluruh tubuh serta mengangkut sisa metabolisme
ke seluruh tubuh seperti karbondioksida,asam urat dan ureum. Untuk
menjalankan fungsinya sebagai pompa,jantung dapat berkontraksi dan
berlelaksasi. Proses kontraksi dan relaksasi jantung dikenal sebagai denyut
jantung. Pada saat berdenyut,setiap ruang jantung mengendur dan
terisi darah,selanjutnya jantung berkontraksi dan memompa dalam keluar dari
jantung.
Sedangkan pembuluh darah berfungsi sebagai saluran untuk
mendistribusikan darah dari jantung ke semua bagian tubuh dan mengembalikannya
kembali ke jantung . Dan darah sebagai medium transportasi dimana darah akan
membawa oksigen dan nutrisi. Sedangkan sistem saluran limfe berhubungan erat
dengan sistem sirkulasi darah. Darah meninggalkan jantung melalui arteri dan
dikembalikan melalui vena. Sebagian cairan yang meninggalkan sirkulasi
dikembalikan melalui saluran limfe, yang merembes dalam ruang-ruang jaringan.
Sistem kardiovaskuler sangat memegang peranan penting bagi tubuh manusia,
makadari itu kita perlu mengetahui bagian-bagian serta manfaat dari sistem
kardiovaskuler.
B. Rumusan Masalah
Dari
latar belakang di atas, masalah yang dapat kami kaji dalam makalah
ini diantaranya:
1.
Bagaimana anatomi pada sistem kardiovaskuler?
2.
Bagaimana fisiologi pada sistem kardiovaskuler?
3.
Bagaimana proses biofisika pada sistem kardiovaskuler?
4.
Bagaimana proses biokimiawi pada sistem kardiovaskuler?
C. Tujuan Penulisan
Dalam
pembuatan tugas ini, adapun tujuan yang hendak dicapai penulis yaitu:
1.
Untuk mengetahui anatomi pada sistem kardiovaskuler.
2.
Untuk mengetahui fisiologi pada sistem kardiovaskuler.
3.
Untuk mengetahui proses biofisika pada sistem kardiovaskuler.
4.
Untuk mengetahui proses biokimiawi pada sistem
kardiovaskuler.
D. Metode Penulisan
Metode
yang kami gunakan dalam menulis makalah ini, yaitu :
1. Metode Kepustakaan
Adalah
metode pengumpulan data yang digunakan penulis dengan mempergunakan buku atau refrensi
yang berkaitan dengan masalah yang sedang dibahas.
2. Metode Media Informatika
Adalah metode dengan mencari data melalui situs-situs di
internet.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Anatomi Sistem Kardiovaskuler
1.
Anatomi Sistem
Jantung
Gambar 1. Anatomi system Jantung
Jantung merupakan organ muscular berongga, bentuknya
menyerupai pyramid atau jantung pisang yang merupakan pusat sirkulasi darah ke
seluruh tubuh, terletak dalam rongga toraks pada bagian mediastinum. Ujung
jantung mengarah kebawah, ke depan bagian kiri: Basis jantung terdapat aorta
batang nadai paru pembuluh balik atas dan bawah dan pembuluh paru.
Hubungan
jantung dengan alat sekitarnya:
a.
Dinding depan berhubungan dengan sternum dan
kartilago kostalis tinggi kosta III-I.
b.
Samping berhubungan dengan paru dan fasies mediastilais.
c.
Atas setinggi torakal IV dan servikal II, berhubungan dengan
aorta pulmonalis, bronkus dekstra, dan bronkus sinistra.
d.
Belakang alat-alat mediastinum posterior, esophagus, aorta
desendens, vena azigosis, dan kolumna vertebra torakalis.
Bagian bawah berhubungan dengan diafragma.
Jantung difiksasi pada tempatnya agar tidak mudah berpindah
tempat. Penyokong jantung utama adalah paru yang menekan jantung dari samping
diafragma menyokong dari bawah, pembuluh darah besar yang keluar dan masuk
jantung sehingga jantung tidak mudah berpindah. Factor yang memengaruhi
kedudukan jantung:
a.
Faktor umur: pada usia lanjut alat-alat dalam rongga torak
termasuk jantung agak turun ke bawah.
b.
Bentuk rongga dada: perubahan bentuk torak yang menetap
misalnya penderita TBC menahun batas jantung menurun sedangkan pada asma torak
melebar dan membulat.
c.
Letak diafragma: menyokong jantung dari bawah, jika terjadi
penekanan diafragma kea ta akan mendorong bagian bawah jantung ke atas.
d.
Perubahan posisi tubuh: proyeksi jantung normal ditentukan
oleh perubahan posisi tubuh, misalnya membungkuk, tidur miring ke kiri atau ke
kanan.
Lapisan jantung terdiri dari:
1)
Perikardium
Lapisan
yang merupakan kantong pembungkus jantung, terletak di dalam mediastinum minus,
terletak di belakang korpus sterni dan rawan iga II-IV.
1)
Perikardium fibrosum (visceral): bagian kantong yang
membatasi pergerakan jantung terikat ke bawah sentrum tendinium diafragma
bersatu dengan pembuluh darah besar, melekat pada sternum melalui ligamentum
sternoperikardial.
2)
Periakrdium serosum (parietal), dibagi menajdi dua bagian:
perikardium parietalis membatasi perikardium fibrosum, sering disebut
epikardium, dan perikardium visceral (kavitas perikardialis) yag
mengandung sedikit cairan yang berfungsi melumas untuk mempermudah
pergerakan jantung.
Diantara
dua lapisan jantung ini terdapat lender sebagai pelican untuk menjaga agar
pergesekan antara perikardium tersebut tidak menimbulkan gangguan terhadap
jantung. Pada permukaan posterior jantung terdapat perikarium serosum sekitar
vena-vena besar membentuk sinus obliges dan sinus tranfersus.
2)
Miokardium
Lapisan otot jantung menerima darah dari arteri koronaria.
Arteri koronaria kiri bercabang menjadi arteri desending anterior dan arteri
sirkumfleks. Arteri koronaria kanan memberikan darah untuk sinoatrial
node, ventrikel kanan, permukaan diafragma ventrikel kanan. Vena koronaria
mengembalikan darah ke sinus kemudian bersikulasi langsung ke dalam paru.
Susunan miokardium:
1)
Susunan otot atria: sangat tipis dan kurang teratur,
serabut-serabutnya disusun dalam dua lapisan. Lapisan luar mencakup kedua
atria. Serabut luar ini paling nyata di bagian depan atria. Beberapa serabut
masuk ke dalam septum atrioventrikular. Lapisan dalam teridri dari serabut-serabut
berbentuk lingkaran.
2)
Susunan otot ventrikuler: membentuk bilik jantung dimulai
dari cinicn atrioventikuler sampai ke apeks jantung.
3)
Susunan otot atrioventikular merupakan dinding pemisah
antara serambi dan bilik (atrium dan ventrikel).
3)
Endokardium (permukaan dalam jantung)
Dinding
dalam atrium diliputi oleh membrane yang mengilat, terdiri dari jaringan
endotel atau selaput lender endocardium, kecuali aurikula dan bagian depan
krista. Ke arah aurikula dari ujung bawah krista terminalis terdapat sebuah
lipatan endocardium yang menonjol dikenal sebagai valvula vena kava inverior,
berjalan di depan muara vena inferior menuju ke tepi disebut fosa ovalis.
Antara atrium kanan dan ventrikel kanan terdapat hubungan melalui orifisium
articular.
Bagian-bagian dari jantung:
1)
Basis kordis: bagian jantung sebelah atas yang berhubungan
dengan pembuluh darah besar (aorta asendens, arteri pulmonalis/vena pulomnalis
dan vena kava superior:, dibentuk oleh atrium sinistra dan sebagian atrium
dekstra. Bagian posterior berbatasan dengan aorta desendens, esophagus, vena
azigos, duktus torakalis, terdapat seitinggi vertebrae torakalis (vertebra ruas
VIII)
2)
Apeks kordis: bagian bawah jantung berbentuk puncak kerucut
tumpul. Bagian ini dibentuk oleh ujung ventrikel sinistra dan ventrikel
dekstra. Bagian apek tertutupi oleh paru dan pleura sinistra dari dinding
toraks.
Permukaan jantung (fascies kordis):
a.
Fascies sternokostalis: permukaan menghadap ke depan
berbatasan dengan dinding depan toraks, dibentuk oleh atrium dekstra, ventrikel
dekstra dan sedikit ventrikel sinistra.
b.
Fascies dorsalis: permukaan jantung mengahdap kebelakang,
berbentuk segi empat berbatasan dengan mediastinum posterior, dibentuk oleh
dinding atrium sinistra, sebagian atrium dekstra, dan sebagian kecil dinding
ventrikel sinistra.
c.
Fascies diafragmatika: permukaan bagian bawah jantung yang
berbatas dengan sternum tendinium dafragma dibentuk oelh dinding ventrikel
sinistra dan sebagian kecil ventrikel dekstra.
Tepi jantung (margo kordis):
a.
Margo dekstra: bagian jantung tepi kanan membentang mulaii
dari vena kava superior sampai ke apeks kordis, dibentuk oleh dinding atrium
dekstra dan dinding ventrikel dekstra, memisahkan fascies sternokostalis dengan
fascies diafragmatika sebelah kanan.
b.
Margo sinistra: bagian ujung jantung sebelah tepi membentang
dari bagian bawah muara vena pulmonalis sinistra inferior sampai ke apeks
kordis, dibentuk oleh dinding atrium sinistra (diatas) dan dinidng ventrikel
sinistra (di bawah) memisahkan fascies sternokostalis dengan fascies
diafragmatika sebelah kiri.
Alur permukaan jantung:
a.
Sulkus atrioventrikularis: mengelilingi batas bawah basis
kordis, terletak diantara batas kedua atrium jantung dan kedua ventrikel
jantung.
b.
Sulkuls longitudinalis anterior: alur ini terdapat pada
fascies sternokostalis mulai dari celah di antara arteri polmonalis dengan
aurikula sinistra, berjalan ke bawah menuju apeks kordis. Sulkus ini merupakan
batas antara kedua ventrikel dari depan.
c.
Sulkus longitudinalis posterior: alur ini terdapat pada
fascies diafragmatika kordis, muai dari sulkus koronarius sebelah kanan muara
vena kava inferior menuju apeks kordis. Sulkus ini merupakan batas antara kedua
ventrikel dari belakang bawah.
Ruang-ruang jantung:
a.
Atrium dekstra: terdiri dari rongga utama dan aurikula di
luar, bagian dalamnya membentuk suatu rigi atau krista terminalis. Bagian utama
atrium yang terletak posterior terhadap rigi terdapat dinding halus yang secara
embriologis berasal dari sinus venosus. Bagian atrium yang terletak di depan
rigi mengalami trabekulasi akibat berkas serabut otot yang berjalan dari krista
terminalis.
1) Muara pada atrium kanan:
a)
Vena kava superior: bermuara ke dalam bagian atas atrium
kanan. Muara ini tidak mempunyai katub, mengembalikan darah dari separoh atas
tubuh.
b)
Vena kava inferior: lebih besar dari vena kava superior,
bermuara ke dalam bagian bawah atrium kanan, mengembalikan darah kejantung dari
separoh badan bagian bawah.
c)
Sinus koronalis: bermuara ke dalam atrium kanan antara
vena kava inferior dengan osteum ventrikulare, dilindungi oleh katub yang tidak
berfungsi.
d)
Osteum atrioventrikuler dekstra: bagian anterior vena kava
inferior dilindungi oleh vulva bikuspidalis. Di samping itu banyak bermuara
vena-vena kecil yang mengalirkan darah dari dinding jantung ke dalam atrium
kanan.
2) Sisa-sisa fetal pada atrium kanan. Fossa ovalis dan annulus ovalis
adalah dua struktur yang terletak pada septum interartrial yang memisahkan
atrium kanan dengan atrium kiri. Fossa ovalis merupakan lekukan dangkal tempat
foramen ovale pada vetus dan annulus ovalis membentuk tepi, merupakan septum
pada jantung embrio.
b.
Ventrikel dekstra: berhubungan dengan atrium kanan melalu
osteum atrioventrikuler dekstrum dan dengan traktus pulmonalis melalui osteum
pulmonalis. Dinding ventrikel kanan jauh lebih tebal dari atrium kanan
pulmonalis. Dinding ventrikel kanan jauh lebih tebal dari atrium kanan.
1)
Valvula trikuspidalis: melindungi osteum atrioventikuler,
dibentuk oleh lipatan endocardium disertai sedikit jaringan fibrosa, terdiri
dari tiga lipatan endocardium disertai sedikit jaringan fibrosa, terdiri dari
tiga kuspis atau saringan (anterior, septalis, dan inferior). Basis kuspis
melekat pada cincin fibrosa rangka jantung. Bila ventrikel berkontraksi M.
papilaris berkontraksi mencegah agar kuspis tidak terdorong ke atrium dan
terbalik waktu tekanan intraventrikuler meningkat.
2)
Valvula pulmunalis: melindungi osteum pulmonalis, terdiri
dari semilunaris arteri pulmonalis, dibentuk oleh lipatan endocardium disertai
sedikit jaringan fibrosa. Mulut muara kuspis arahnya ke atas, ke dalam trunkus
pulmonalis. Selama sistolik ventrikel katup kuspis tertekan pada dinding
trunkus pulmonalis oleh darah yang keluar. Selama diastolic, darah mengalir
kembali ke jantung masuk ke sinus. Katup kuspis terisi dan menutup osteum
pulmonalis.
c.
Atrium sinistra: terdiri dari rongga utama dan aurikula,
terletak di belakang atrium kanan, membentuk sebagian besar basis (fascies
posterior), dibelakang atrium sinistra terdapat sinus oblig pericardium serosum
dan pericardium fibrosum. Bagian dalam atrium sinistra halus dan bagian
aurikula mempunyai rigi otot seperti aurikula dekstra. Muara atrium sinistra
vena pulmonalis dari masing-masing paru bermuara pada dinding posterior dan
mempunyai valvula osteum atrioventrikular sinistra, dilindungi oleh valvula
mitralis.
d.
Ventrikel sinistra: ventrikel kiri berhubungan dengan atrium
sinistra melalui osteum atrioventrikuler sinistra dan dengan aorta melalui
osteum aorta. Dinding ventrikel sinistra tiga kali lebih tebal dari ventrikel
kanan. Tekanan darah intraventrikuler kiri enam kali lebih tinggi disbanding
tekanan dari ventrikel dekstra.
1)
Valvula mitralis (bikuspidalis): melindungi osteum
atrioventrikular terdiri atas dua kuspis (kuspis anterior dan kuspis
posterior). Kuspis anterior lebih besar terletak antara osteum atrioventrikular
dan aorta.
2)
Valvula semilunaris aorta: melindungi osteum aorta
strukturnya sama dengan valvula semilunaris arteri pulmonalis. Salah satu
kuspisnya terletak pada dinding anterior dan dua terletak pada dinding
posterior di belakang kuspis. Dinding aorta membentuk sinus aorta anterior
merupakan asal arteri koronaria dekstra. Sinus posterior sinistra merupakan
asal arteri koronaria sinistra.
Peredaran darah jantung:
a. Arteri koronaria kanan: berasal
dari sinus anterior aorta berjalan ke depan antara trunkus pulmonalis dan
aurikula dekstra, memberikan cabang-cabang ke atrium dekstra dan ventrikel
desktra. Pada tepi inferior jantung menuju sulkus atrioventrikularis untuk
beranastomosis dengan arteri koronaria kiri memperdarahi ventrikel dekstra.
b. Arteri koronaria kiri: lebih besar
dari arteri koronaria dekstra, dari sinus posterior aorta sisintra berjalan ke
depan antara trunkus pulmonalis dan aurikula kiri masuk ke sulkus
atrioventrikularis menuju ke apeks jantung memberikan darag untuk ventrikel
dekstra dan septum interventrikularis.
c. Aliran vena jantung: sebagian
darah dari dinding jantung mengalir ke atrium kanan melalui sinus koronarius
yang terletak di bagian belakang sulkus atrioventrikularis merupakan lanjutan
dari V. kardiak magna yang bermuara ke atrium dekstra sebelah kiri vena kava
inferior. V. kardiak minimae dan media merupakan cabang sinus koronarius,
sisanya kembali ke atrium dekstra melalui vena kardiak anterior, melalui vena
kecil langsung ke ruang-ruang jantung.
Jantung dipersarafi oleh serabut simpatis
dan parasimpatis system saraf otonom melalui pleksus kardiakus.Saraf simpatis
berasal dari trunkus simpatikus bagian servikal dan torakal bagian atas dan
saraf simpatis berasal dari nervus vagus. Serabut eferen post-ganglion berjalan
ke nodus sinus atrialis dan nodus atrioventrikularis tersebar ke bagian jantung
yang lain. Serabut aferen berjalan bersama nervus vagus berperan sebagai
refleks kardiovaskuler, berjalan bersama saraf simpatis.
2. Pembuluh Darah
Pembuluh darah adalah prasarana jalan bagi aliran darah ke
seluruh tubuh.Saluran darah ini merupakan system tertutup dan jantung sebagai
pemompa darah.Fungsi pembuluh darah adalah mengangkut (transportasi) darah dari
jantung ke seluruh bagian tubuh dan mengangkut kembali darah yang sudah dipakai
kembali ke jantung.Fungsi ini disebut sirkulasi darah.Selain darah itu juga
darah mengangkut gas-gas, zat makanan, sisa metabolisme, hormone, antibodi, dan
keseimbangan elektrolit.
Pembuluh darah terdiri atas arteri dan vena.Arteri
berhubungan langsung dengan vena pada bagian kapiler dan venula yang
dihubungkan oleh bagianendotheliumnya.
Arteri dan vena terletak bersebelahan.Dinding arteri lebih
tebal dari pada dinding vena.Dinding arteri dan vena mempunyai tiga lapisan
yaitu lapisan bagian dalam yang terdiri dari endothelium, lapisan tengah yang
terdiri atas otot polos dengan serat elastis dan lapisan paling luar yang
terdiri atas jaringan ikat ditambah dengan serat elastis.Cabang terkecil dari
arteri dan vena disebut kapiler.Pembuluh kapiler memiliki diameter yang sangat
kecil dan hanya memiliki satu lapisan tunggalendothelium dan sebuah membran
basal.
Perbedaan struktur masing-masing pembuluh darah berhubungan
dengan perbedaan fungsional masing-masing pembuluh darah tersebut.
Pembuluh darah terbagi menjadi:
a.
Pembuluh Darah Arteri
1)
Tempat mengalir darah yang dipompa dari bilik
2)
Merupakan pembuluh yang liat dan elastis
3)
Tekanan pembuluh lebih kuat dari pada pembuluh balik
4)
Memiliki sebuah katup (valvula semilunaris) yang berada
tepat di luar jantung
Terdiri atas:
a)
Aorta yaitu pembuluh dari bilik kiri menuju ke seluruh tubuh
b)
Arteriol yaitu percabangan arteri
c)
Kapiler
5) Dindingnya terdiri atas 3 lapis
yaitu :
a)
Lapisan bagian dalam yang terdiri atas Endothelium
b)
Lapisan tengah terdiri atas otot polos dengan Serat elastis
c)
Lapisan terluar yang terdiri atas jaringan ikat Serat
elastis
b.
Pembuluh Balik (Vena)
1)
Terletak di dekat permukaan kulit sehingga mudah di kenali
2)
Dinding pembuluh lebih tipis dan tidak elastis.
3)
Tekanan pembuluh lebih lemah di bandingkan pembuluh nadi
4)
Terdapat katup yang berbentuk seperti bulan sabit (valvula
semi lunaris) dan menjaga agar darah tak berbalik arah.
5)
Terdiri dari :
a)
Vena cava superior yang bertugas membawa darah dari bagian
atas tubuh menuju serambi kanan jantung.
b)
Vena cava inferior yang bertugas membawa darah dari bagian
bawah tubuh ke serambi kanan jantung.
c)
Vena cava pulmonalis yang bertugas membawa darah dari
paru-paru ke serambi kiri jantung.
2. FISIOLOGI SISTEM KARDIOVASKULER
1. Hemodinamika Jantung
Pengaturan tekanan darah lebih cenderung diperankan oleh
adanya perubahan-perubahan tekanan osmotic dan tekanan hidrostatik baik
intravaskuler maupun ekstravaskuler. Peran utama dilakukan oleh kadar natrium
yang secara langsung memengaruhi nilai osmotic cairan, sehingga akan
memengaruhi proses sekresi aldosterone dan hormone antidiuretic. Selanjutnya
hormone tersebut memengaruhi volume darah dan tekanan darah.
Perubahan tekanan osmotic dan hidrostatik juga memengaruhi
tekanan darah.Pengaruh langsung peningkatan volume darah oleh suatu tindakan
pemberian cairan intravena, pada peristiwa perdarahan, mampu mempertahankan
tekanan darah dalam batas normal.Dalam mengatur tekanan darah, system
hemodinamik diperankan oleh adanya perubahan tekanan osmotic dan tekanan
hidrostatik baik intravaskuler maupun ekstravaskuler. Peran utama oleh kadar
natrium yang secara langsung memengaruhi nilai osmotic cairan, sehingga
memengaruhi proses sekresi aldosterone dan hormone antidiuretic. Selanjutnya
kedua hormone ini akan memengaruhi volume darah dan tekanan darah.
2. Elektrofisiologi Jantung
Aktifitas listrik jantung merupakan akibat dari perubahan
permeabilitas membrane sel yang memungkinkan pergerakan ion-ion melalui
membrane tersebut.Dengan masuknya ion-ion maka muatan listrik sepanjang
membrane ini mengalami perubahan yang relative. Terdapat tiga macam ion yang
mempunyai fungsi penting dalam elektrofisiologis sel yaitu kalium
(K), natrium (Na), dan kalsium (Ca). Kalium lebih banyak terdapat di dalam sel,
sedangkan kalsium dan kalium lebih banyak terdapat diluar sel.
Dalam keadaan istirahat
sel-sel otot jantung mempunyai muatan positif di bagian luar sel dan muatan
negative di bagian dalam sel. Ini dapat dibuktikan dengan
galvanometer.Perbedaan muatan bagian luar dan bagian dalam sel disebut resting
membrane potensial. Bila sel dirangsang akan terjadi perubahan muatan dalam sel
menjadi positif, sedangkan di luar sel menjadi negative. Proses terjadinya
perubahan muatan akibat rangsangan dinamakan depolarisasi. Setelah rangsangan
sel berusaha kembali pada keadaan muatan semula proses ini dinamakan
repolariasi. Seluruh proses tersebut dinamakan aksi potensial.
Aksi potensial terjadi disebabkan oleh rangsangan listrik,
kimia, mekanik, dan termis. Aksi potensial dibagi dalam lima fase.
a. Fase istirahat
Bagian
luar sel jantung bermuatan positif dan bagian dalam bermuatan negative
(polarisasi). Membran sel lebih permeable terhadap kalium daripada natrium
sehingga sebagian kecil kalium merembes ke luar sel. Dengan hilangnya kalium
maka bagian dalam sel menjadi relative negative.
b. Fase depolarisasi (cepat)
Disebabkan
oleh meningkatnya permeabilitas membrane terhadap natrium, sehingga natrium
menglir dari luar ke dalam.Akibatnya, muatan di dalam sel menjadi positif
sedangkan diluar sel menjadi negative.
c. Fase polarisasi parsial
Segera
setelah terjadi depolarisasi terdapat sedikit perubahan akibat masuknya kalsium
ke dalam sel, sehingga muatan positif di dalam sel menjadi berkurang.
d. Fase plato (keadaan stabil)
Fase
depolarisasi diikuti keadaan stabil yang agak lama sesuai dengan masa refraktor
absolut dari miokard.Selama fase ini tidak terjadi perubahan muatan
listrik.Terdapat keseimbangan antara ion positif yang masuk dan yang ke
luar.Aliran kalsium dan natrium ke dalam sel perlahan-lahan diimbangi dengan
keluarnyakalium dari dalam sel.
e. Fase repolarisasi (cepat)
Pada
fase ini muatan kalsium dan natrium secara berangsur-angsur tidak mengalir lagi
dan permeabilitas terhadp kalium sangat meningkat sehingga kalium keluar dari
sel dengan cepat.Akibatnya muatan positif dalam se menjadi sangat berkurang
sehingga pada akhir muatan di dalam sel menjadi relative negative dan muatan di
luar sel relative positif.
3. Mekanisme Jantung sebagai Pompa
Pada tiap siklus jantung terjadi systole dan diastole secara
berurutan dan teratur dengan adanya katup jantung yang terbuka dan
tertutup.Pada saat itu jantung dapat bekerja sebagai suatu pompa sehingga darah
dapat beredar ke seluruh tubuh.Selama satu siklus kerja jantung terjadi
perubahan tekanan di dalam rongga jantung sehingga terdapat perbedaan
tekanan.Perbedaan ini menyebabkan darah mengalir dari rongga yang tekanannya
lebih tinggi ke tekanan yang lebih rendah.
a. Fungsi
atrium sebagai pompa
Dalam
keadaan normal darah mengalir terus dari vena-vena besar ke dalam atrium.Kira-kira
70% aliran ini langsung mengalir dari atrium ke ventrikel walaupun atrium belum
berkontraksi.Kontraksi atrium mengadakan pengisian tambahan 30% karena atrium
berfungsi hanya sebagai pompa primer yang meningkatkan efektivitas ventrikel
sebagai pompa.Kira-kira 30% tambahan efektivitas, jantung terus dapat bekerja
dengan sangat memuaskan dalam keadaan istirahat normal.
b. Fungsi
ventrikel sebagai pompa
1)
Pengisian ventrikel
Selama
systole ventrikel, sejumlah darah tertimbun dalam atrium karena katub atrium ke
ventrikel tertutup. Tepat setelah sistolik berakhir tekanan ventrikel turun
kembali sampai ke tekanan diastolic yang rendah. Tekanan pada atrium
yang tinggi dengan segera mendorong katub antara atrium dan ventrikel membuka
dan memungkinkan darah mengalir dengan cepat ke dalam ventrikel.Ini dinamakan
periode pengisian cepat ventrikel.Periode pengisia berlangsung kira-kira 1/3
pertama diastolic.Selama 1/3 tengah diastolic darah sedikit mengalir ke
ventrikel.Darah yangterus masuk ke dalam atrium dari vena-vena dan berjalan
melalui atrium langsung ke ventrikel.
2)
Pengosongan ventrikel selama systole
Bila
kontraksi ventrikel mulai, tekanan ventrikel meningkat dengan cepat,
menyebabkan katub atrium dan ventrikel menutup. Diperlukan penambahan 0,02-0,03
detik bagi ventrikel untuk meningkatkan tekanan yang cukup untuk mendorong
katup-katup semilunaris aorta dan semilunaris arteri pulmonalis, membuka
melawan tekanan dalam aorta dan arteri pulmonalis. Selama periode ini terjadi
kontraksi pada ventrikel tetapi tidak terjadi pengosongan.Periode ini dinamakan
periode kontraksi sistemik.
3)
Periode ejeksi
Bila
tekanan ventrikel kiri meningkat sedikit di atas 80mmHg, tekanan ventrikel
dekstra sedikit di atas 8 mmHg, tekanan ventrikel sekarang mendorong membuka
katup semilunaris segera darah mulai dikeluarkan dari ventrikel. Sekitar 60%
terjadi pengosongan selama ¼ pertama systole, dan 40% sisanya dikeluarkan selaa
2/4 berikutnya, ¾ bagian systole ini dinamakan periode ejeksi.
4)
Diastole
Selama
¼ terakhir diastole ventrikel hampir tidak ada aliran darah dari vetrikel masuk
ke arteri besar walaupun otot ventrikel tetap berkontraksi.
5)
Periode Relaksasi Isometrik (isovolemik)
Pada
akhir systole relaksasi ventrikel mulai dengan tiba-tiba, mungkin tekanan dalam
ventrikel turun dengan cepat. Peningkatan tekanan dalam arteri besar tiba-tiba
mendorong darah kembali kea rah ventrikel, menimbulkan bunyi penutupan katup
aorta dan pulmonal dengan keras selama 0,03-0,06 detik. Selanjutnya otot
ventrikel relaksasi dan tekanan dalam ventrikel turun dengan cepat kembali ke
tekanan diastole yang sangat rendah.Katup atrium dan ventrikel membuka
mengawali siklus pompa ventrikel yang baru.
Selama diastole, pengisian ventrikel dalam keadaan normal
meningkatkan volume setiap ventrikel sekitar 120-130 ml. Volume ini dinamakan
volume akhir diastolic.Pada waktu ventrikel kosong selama systole, volume
berkurang kira-kira 70 ml, dinamakan isi sekuncup.Volume yang tersisa dalam
tiap-tiap ventrikel sekitar 50-60 ml dinamakan volume akhir sistolik.
Katup trikuspidalis dan katup bikuspidalis mencegah
pengaliran balik darah dari ventrikel ke atrium selama systole.Katup
semilunaris aorta dan katup semilunaris arteri pulmonalis mencegah alirab balik
dari aorta dan arteri pulmonalis ke dalam ventrikel selama periode diastole.
Semua katup ini membuka dan menutup secara pasif yaitu akan menutup bila
selisih tekanan yang membalik mendorong darah kembali dan membuka bila selisih
tekanan ke depan mendorong darah kea rah depan.
Seseorang yang seang istirahat jantungnya memompakan darah
4-6 liter/menit, Dalam keadaan kerja berat mungkin diperlukan pemompaan darah
sebanyak 5 kali dari jumlah tersebut. Dua
cara dasar pengaturan kerja pemompaan jantung.
a)
Autoregulasi intrinsic pemompaan akibat perubahan volume
darah yang mengalir ke dalam jantung. Hukum Frank dan Starling: Makin banyak
jantung terisi selama diastole makin besar jumlah darah dipompakan ke dalam
aorta. Dalam batas fisiologis, jantung memompakan semua darah yang masuk ke
dalam jantung tanpa mungkin terjadinya bendungan darah yang berlebihan dalam
vena. Bila ventrikel terisi oleh tekanan atrium yang lebih tinggi kekuatan
kontaksi jantung meningkat, menyebabkan jantung memompakan darah dalam jumlah
yang lebih besar ke dalam arteri.
b)
Refleksyang mengawasi kecepatan dan kekuatan kontraksi
jantung melalui saraf otonom. Saraf ini memengaruhi daya pompa jantung melalui
dua cara, yaitu dengan mengubah frekuensi jantung dan mengubah kekuatan
kontraksi jantung.
4. Pembuluh Darah Arteri, Vena, dan
Sistem Kapiler
a.
Arteri
Arteri
atau pembuluh darah nadi merupakan pembuluh darah yang keluar dari jantung yang
membawa darah ke seluruh tubuh dan alat tubuh.Pembuluh darah yang paling besar
keluar dari ventrikel sinistra, disebut aorta.Arteri mempunyai dinding yang
tebal dan kuat tetapi mempunyai sifat yang sangat elastis, terdiri dari tiga
lapisan:
1)
Tunika intima (interna): lapisan yang paling dalam,
berhubungan dengan darah, terdiri dari lapisan endothelium dan jaringan
fibrosa.
2)
Tunika media: lapisan tengah yang terdiri dari jaringan otot
polos sifatnya sangat elastis, mempunyai sedikit jaringan fibrosa, karena
susunan otot tunika ini arteri dapat berkontraksi dan berdilatasi.
3)
Tunika eksterna (adventitia): lapisan yang paling luar
terdiri dari jaringan ikat gembur untuk memperkuat dinding arteri, jaringan
fibrotic yang elastis.
Arteri mendapat darah dari pembuluh darah halus yang
mengalir di dalanya, berfungsi memberi nutrisi pada pembuluh tersebut yang
disebut vosa vasorum.Arteri dapat berkontraksi dan berdilatasi disebabkan pengaruh
susunan saraf otonom.
b.
Vena
Pembuluh
darah vena merupakan kebalikan dari pembuluh darah arteriyang membawa darah
dari alat-akat tubuh masuk ke jantung. Bentuk dan susunannya hampir sama denga
arteri. Katup pada vena terdapat di sepanjang pembuluh darah untuk mencegah
darah tidak kembali lagi ke sela atau jaringan.Vena yang terbesar adalah vena
pulmonalis. Vena mempunyai cabang yaitu venolus, selanjutnya menjadi kapiler.
c.
Sistem Kapiler
Kapiler
adalah pembuluh darah yang sangat kecil sehingga disebut juga pembuluh rambut.
Pada umumnya kapiler-kapiler meliputi sel-sel jaringan karena secara langsung
berhubungan dengan sel. Kapiler terdiri dari:
1)
Kapiler arteri, tempat berakhirnya arteri. Makin kecil
arteriol, makin hilang lapisan dinding dari arteri sehingga pada kapiler arteri
lapisan dinding hany menjadi satu lapisan yaitu lapisan endothelium. Lapisan
yang sangat tipis ini memungkinkan cairan darah/limfe merembes keluar membentuk
cairan jaringan, membawa air, mineral dan zat makanan melalui pertukaran gas antara
pembuluh kapiler dengan jaringan sel. Kapiler juga menyediakan oksigen dan
menyingkirkan karbondioksida.
2)
Kapiler vena, lapisannya hampir sama dengan kapiler arteri.
Fungsinya adalah membawa zat sisa yang tidak terpakai oleh jaringan sel berupa
zat ekskresi dan karbondioksida. Darah dibawa keluar dari tubuh melalui
venolus, vena dan seterusnya keluar tubuh melalui tiga proses yaitu pernapasan,
keringat dan feses.
Fungsi
kapiler:
1) Sebagai penghubung antara pembuluh
darah arteri dan vena.
2) Tempat terjadinya pertukaran zat
antara darah dan cairan jaringan.
3) Mengambil hasil dari kelenjar.
4) Menyerap zat makanan yang terdapat
dalam usus.
5) Menyaring darah yang terdapat di
ginjal.
Pintu masuk ke kapiler dilingkari
oleh sfingter yang terbetuk dari otot polos. Bila sfingter ini terbuka, darah
memasuki kapiler dan bila sfingter ini tertutup, darah langsung dari arteriole
ke venolus dan tidak melalui kapiler. Tekanan darah pada kapiler arteri
bekurang sampai 30 mmHg, sesampai di ujung kapiler vena menjadi 10 mmHg.
Tekanan kapiler akan meningkatkan bila arteriole berdilatasi dan sfingter
kapiler relaksasi, sehingga darah banyak masuk ke dalam kapiler.
Kapiler membuka dan menutup dengan
kecepatan 6-12 kali/menit. Relaksasi kapiler terjadi sebagai respons terhadap
setiap peningkatan jumlah karbon dioksida dan asam laktat dalam darah atau
penurunan yang terjadi pada kadar oksigen. Relaksasi tersebut menimbulkan
banyak darah mencapai jaringan bila terjadi peningkatan aktvitas metabolic. Sfingter
kapiler yang menuju ke kulit berelaksasi sebagai respons teradap peningkat suhu
tubuh dan peningkatan sirkulasi melalui kapiler karena turunnya suhu tubuh.
Mekanisme pergeseran cairan kapiler
mengatur tekanan darah. Di samping mekanisme saraf dan hormonal untuk mengatur
tekanan arteri dengan cepat, mekansime intrinsic dari sirkulasi juga membantu
mengatur tekanan arteri. Biasanya mekanisme pergeseran cairan kapiler mulai
bekerja dalam beberapa menit dan berfungsi penuh dalam beberapa jam. Ini meurpakan
mekanisme perpindahan cairan kapiler yaitu perubahan tekanan arteri disertai
dengan perubahan tekanan kapiler yang menyebabkan cairan mulai bergerak
melintasi membrane kapiler diantara darah dengan ruangan cairan interstisial.
Jiak tekanan arteri naik terlalu
tinggi mengakibatkan hilangnya cairan melalui kapiler ke dalam ruangan
interstisial, menyebabkan volume darah turun. Dengan demikian tekanan arteri
kembali normal. Sebaliknya bila tekanan turun terlalu rendah, cairan diabsorpsi
ke dalam darah dan peningkatan volume cairan akan menaikkan kembali tekanan
menjadi normal.
5.
Tekanan Darah dan Sistem Regulasi
Selisih antara tekanan sistolik dan diastolic disebut
tekanan (pulse pressure). Misalnya, tekanan sistolik 120 mmHg dan
tekanan diastolic 80 mmHg, maka tekanan nadi sama dengan 40 mmHg. Tekanan darah
umumnya tidak selalu tetap, berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan keadaan
kesehatan. Tekanan nadi juga akan berubah selaras dengan perubahan
tekanan darah seseorang. Perubahan tekanan nadi dipengaruhi oleh factor yang
memengaruhi tekanan darah. Misalnya, pengaruh usia dan penyakit
arteriosclerosis. Pada keadaan arteriosclerosis elastisitas pembuluh darah
berkurang dan bahkan menghilang sama sekali, sehingga tekanan nadi meningkat.
Tekanan darah sangat penting dalam system sirkulasi darah
dan selalu diperlukan untuk daya dorong mengalirkan darah di dalam arteri,
arteriola, kapiler dan system vena sehingga terbentuk aliran darah yang
menetap. Jantung bekerja sebagai pemompa darah dapat memindahkan darah dari
pembuluh vena ke pembuluh arteri pada system sirkulasi tertutup. Aktivitas
pompa jantung berlangsung dengan cara mengadakan kontraksi dan relaksasi,
sehingga menimbulkan perubahan tekanan darah dalam system sirkulasi.
Pada perekaman tekanan di dalam siste arteri, tampak
kenaikan tekanan arteri sampai pada puncaknya sekitar 120 mmHg. Tekanan ini
disebut tekanan systole, kenaikan ini menyebabkan aorta mengalami distensi
sehingga tekanan di dalamnya turun sedikit. Pada saat diastole, ventrikel
tekanan aorta cenderung menurun sampai dengan 80 mmHg. Tekanan ini dalam
pemeriksaan disebut dengan tekanan diastolic. Dengan adanya perubahan ini pada
siklus jantung, inilah yang menyebabkan terjadinya aliran darah di dalam system
sirkulasi tertutup pada tubuh manusia.
3. BIOFISIKA PADA SISTEM KARDIOVASKULER
a.
Listrik Jantung
Jantung sebenarnya tergantung dalam suatu medium konduktif.
Bila satu bagian ventrikel menjadi elekronegatif bila dibandingkan dengan
sisanya, arus listrik mengalir dari daerah berdepolarisasi ke daerah
berpolarisasi dalam jalur memutar besar.
Selama sisa siklus depolarisasi arus listrik terus mengalir
dalam arah dari basis jantung menuju ke apeks, sewaktu impuls menyebar dari
permukaan endokarnial ke luar melalui otot ventrikel.
Dalam membuat perekaman elektrokardiografik, digunakan
bermacam-macam posisi standar untuk penempatan elekktroda dan positif atau
negatifnya polaritas rekaman selama setiap siklus jantung ditentukan oleh
orientasi elektroda dengan mengingat aliran arus di dalam jantung . beberapa
sistem elektroda konvensional yang biasanya disebut sandapan
elektrokardiografik.
b.
Konduksi Jantung
Di dalam otot jantung terdapat jaringan khusus yang
menghantarkan aliran listrik. Jaringan tersebut mempunyai sifat-sifat yang
khusus,yaitu :
a. Otomatisasi,kemampuan untuk
menimbulkan impuls secara spontan.
b. Irama,kemampuan membentuk impuls
yang teratur.
c. Daya konduksi,kemampuan untuk
menyalurkan impuls.
d. Daya rangsang,kemampuan untuk
bereaksi terhadap rangasang.
Berdasarkan sifat-sifat tersebut di
atas,maka secara spontan dan teratur jantung akan menghasilkan impuls-impuls
yang di salurkan melalui sistem hantaran untuk merangsang otot jantung dan bisa
menimbulkan kontraksi otot. Perjalanan impuls di mulai dari nodus SA ke nodus
AV,sampai ke serabut purkinye.
Di dinding atrium kanan terdapat
nodus sinoatrial (SA). Sel-sel dari nodus SA memiliki otomatisasi. Karena nodus
SA secara normal melepaskan impuls dengan kecepatan lebih cepat dari pada sel
jantung lain dengan otomatisasi 60-100 denyut/menit. Jaringan khusus ini
bekerja sebagai pemacu jantung normal. Pada bagian bawah septum interatrial
terdapat nodus atrioventrikuler(AV).Jaringan ini bekerja untuk
menghantarkan,memperlambat,potensial aksi atrial sebelum ia mengirimnya ke
ventrikel. Potensial aksi mencapai nodus AV pada waktu yang berbeda. Nodus AV
memperlambat hantaran dari potensial aksi ini sampai semua potensial aksi telah
di keluarkan atrium dan memasuki nodus AV.
c.
Viskositas Pembuluh Jantung
Tahanan terhadap aliran darah ditentukan tidak hanya oleh
jari-jari pembuluh darah tetapi juga oleh viskositas darah. Plasma kira-kira
1,8 kali lebih kental dibanding air, sedangkan darah 3-4 kali lebih kental
dibanding air. Jadi viskositas bergantung sebagian besar pada hematokrit yaitu
persentase volume darah yang ditempati oleh sel darah merah. Efek
viskositas in vivo menyimpang dari yang diperkirakan oleh rumus
Poiseuille-Hagen.Di pembuluh besar, peningkatan hematokrit mwenyebabkan
peningkatan viskositas yang cukup besar. Namun dipembuluh yang diameter lebih
kecil, yaitu di arteriol, kapiler dan venula, viskositas berubah lebih sedikit
per satuan perubahan hematokrit dibandingkan perubahan viskositas di pembuluh
besar. Hal ini karena perbedaan pada sifat aliran yang melalui pembuluh kecil.
Oleh sebab itu perubahan nettoviskositas persatuan perubahan hematokrit jauh
lebih kecil ditubuh dibandingkan perubahannya secara invitro. Hal inilah yang
menyebabkan mengapa perubahan hematokrit memiliki pengaruh yang relatif kecil
pada tahanan perifer kecuali pada berubahan tersebut besar. Pada polisitemia
berat, peningkatan tahannan jelas meningkatkan kerja jantung. Sebaliknyan, pada
anemia, tahanan perifer manurun, sebagai akibat penurunan viskositas. Tentu
saja penurunan hemoglobin menurunkan kemampuan darah mengangkut O2, tetapi
perbaikan aliran darah viskositas relatif.
4. BIOKIMIA PADA SISTEM KARDIOVASKULER
Struktur dan Fungsi Enzim
Analisa enzim jantung dalam plasma merupakan bagian dari
profil diagnostic, yang meliputi riwayat, gejala, dan elektrokardiogram, untuk
mendiagnosa infark miokard. Enzim dilepaskan dari sel bila sel mengalami cedera
dan membrannya pecah. Kebanyakan enzim tidak spesifik dalam hubungannya dengan
organ tertentu yang rusak. Namun berbagai isoenzim hanya dihasilkan oleh sel
miokardium dan dilepaskan bila sel mengalami kerusakan akibat hipoksia lama dan
mengakibatkan infark. Isoenzim bocor ke rongga interstisial miokardium dan
kemudian di angkut ke peredaran darah umum oleh system limfa dan peredaran koronaria,
mengakibatkan peningkatan kadar dalam darah.
Struktur
enzim:
Enzim umumnya merupakan protein globular dan ukurannya
berkisar dari hanya 62 asam amino pada monomer 4-oksalokrotonat tautomerase,
sampai dengan lebih dari 2.500 residu pada asam lemak sintase. Terdapat pula
sejumlah kecil katalis RNA, dengan yang paling umum merupakanribosom; Jenis
enzim ini dirujuk sebagai RNA-enzim ataupun ribozim. Aktivitas enzim ditentukan
oleh struktur tiga dimensinya (struktur kuaterner). Walaupun struktur enzim menentukan
fungsinya, prediksi aktivitas enzim baru yang hanya dilihat dari strukturnya
adalah hal yang sangat sulit.
Kebanyakan enzim berukuran lebih besar daripada substratnya,
tetapi hanya sebagian kecil asam amino enzim (sekitar 3–4 asam amino) yang secara
langsung terlibat dalam katalisis. Daerah yang mengandung residu katalitik yang
akan mengikat substrat dan kemudian menjalani reaksi ini dikenal sebagai tapak
aktif. Enzim juga dapat mengandung tapak yang mengikatkofaktor yang diperlukan
untuk katalisis. Beberapa enzim juga memiliki tapak ikat untuk molekul kecil,
yang sering kali merupakan produk langsung ataupun tak langsung dari reaksi
yang dikatalisasi. Pengikatan ini dapat meningkatkan ataupun menurunkan
aktivitas enzim. Dengan demikian ia berfungsi sebagai regulasi umpan balik.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Sistem kardiovaskular terdiri dari
darah, jantung dan pembuluh darah . Jantung terletak di tulang iga mediastium
dirongga dada. 2/3nya terletak dibagian kiri, 1/3nya
terletak dibagian kanan dann garis tengah tubuh. Proyeksi
jantung kanan secara visual pada permukaan
anterior adalah dibawah sternum dan tulang iga.
Jantung merupakan organ muskular
berongga yang bentuknya mirip piramid dan terletak di dalam perikardium di
mediastinum. Jantung memiliki tiga permukaan : facies sternocostalis,
diaphragmatica, dan basis cordis. Jantung dibagi oleh septa vertikal menjadi
empat ruang: atrium dextrum, atrium sinistrum, ventriculus dexter, dan ventriculus
sinister.
B. Saran
Dalam pebuatan makalah ini juga kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah masih terdapat banyak kesalahan,
kekurangan serta kejanggalan baik dalam penulisan maupun dalam pengonsepan
materi. Utnuk itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar
kedepan lebih baik dan kami berharap kepada semua pembaca mahasiswa khususnya, untuk
lebih ditingkatkan dalam pembuatan makalah yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Syaifuddin.2011.Anatomi Fisiologi Kurikulum Berbasis
Kompetensi untuk Keperawatan dan Kebidanan Edisi 4.Jakarta: EGC
Brunner&Suddarth.2001.Buku Ajar Kaperawatan Madikal
Bedah Edisi 8.Jakarta : EGC
Guyton,Arthur C.2007.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.edisi
1.Jakarta : EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar